Kini, ketika orang berbicara tentang pembangunan Sumbawa, yang segera muncul adalah jalan raya, aspal, jembatan besar, kendaraan, konektivitas, dan percepatan.
Mataram (ANTARA) - Pada suatu pagi bulan Juli tahun 1955, sebelum matahari benar-benar terbit, seorang antropolog muda bernama Peter R. Goethals berdiri di sebuah persimpangan jalan di kota Sumbawa Besar.
Dari titik itu, salah satu dari hanya tiga jalan beraspal di kota kecil tersebut berakhir dan berubah menjadi jalan tanah yang mengarah ke pegunungan di pedalaman barat daya.
Ia sedang menunggu seorang petani dari Karang Rarak bernama Anin untuk berjalan pulang bersama menuju desa mereka di pegunungan.Perjalanan itu biasanya memakan waktu sekitar dua setengah jam dengan berjalan kaki (Rarak: The Annual Swidden Cycle, 1975).
Ketika Anin datang, langit sudah mulai pucat. Ia membawa palemar di pundaknya—pikulan kayu panjang dengan minyak kelapa, beras, ikan kering, tembakau, gambir, dan berbagai kebutuhan rumah tangga yang dibeli dari kota.
Di pinggangnya tergantung berang, parang besar khas pegunungan Sumbawa. Mereka lalu berjalan menuruni kebun pisang, menyeberangi Sungai Sumbawa yang dangkal di musim kemarau, lalu terus mendaki ke arah perbukitan (Rarak: The Annual Swidden Cycle, 1975).
Sulit membayangkan adegan seperti itu hari ini.
Kini, ketika orang berbicara tentang pembangunan Sumbawa, yang segera muncul adalah jalan raya, aspal, jembatan besar, kendaraan, konektivitas, dan percepatan.
Semakin cepat suatu tempat dapat ditempuh, semakin “maju” tempat itu dianggap. Desa yang jauh dari jalan raya disebut terpencil. Wilayah tanpa aspal dianggap tertinggal. Mobilitas diukur dalam hitungan menit tempuh kendaraan.
Tetapi tulisan-tulisan lama tentang Sumbawa memperlihatkan sesuatu yang berbeda: sebuah dunia yang tetap terhubung tanpa jalan raya modern. Dunia yang bergerak lambat, tetapi tidak terisolasi. Dunia yang membangun konektivitas melalui kuda, jalan setapak, sungai, teluk, dan jaringan kampung.
Mungkin persoalannya bukan bahwa Sumbawa dahulu kekurangan infrastruktur. Mungkin persoalannya adalah bahwa masyarakat Sumbawa dahulu memiliki cara lain dalam membayangkan ruang dan hubungan antar-tempat.
Dunia yang Bergerak Mengikuti Lanskap
Dalam banyak catatan kolonial dan etnografi lama, perjalanan di Sumbawa hampir selalu digambarkan sebagai pengalaman yang melelahkan sekaligus intim dengan lanskap.
Jalan tidak lurus. Sungai sering harus diseberangi langsung. Bukit dihindari atau diputar mengikuti kontur tanah.
Pada musim hujan, beberapa jalur nyaris tidak dapat dilalui. Bahkan jalan mobil kolonial pun sering terputus oleh sungai atau longsoran.
Dalam Het cultuurlandschap van West-Soembawa (1936), geografer Belanda Gerrit Kuperus berulang kali mencatat bagaimana jalan harus menyesuaikan diri dengan jurang, bukit, sungai musiman, dan pegunungan.
Di banyak tempat, kendaraan bahkan harus menerobos sungai karena tidak tersedia jembatan permanen.
Namun justru di tengah lanskap seperti itu, kehidupan sosial tetap berlangsung. Orang pergi ke pasar. Pedagang Bugis berpindah antarpelabuhan. Hasil ladang dibawa ke kota. Kerabat saling mengunjungi.
Desa-desa pegunungan tetap memiliki hubungan dengan pesisir. Konektivitas ada, tetapi bukan dalam bentuk jalan raya lurus yang memotong ruang. Yang menghubungkan kampung-kampung itu adalah jalur kuda.
Dalam Aspects of Local Government in a Sumbawan Village (1961), Goethals menulis bahwa sebagian besar wilayah pegunungan barat Sumbawa “hampir tidak memiliki jalan”, tetapi dipenuhi oleh jalur-jalur kuda yang memungkinkan hubungan antarkampung tetap berlangsung.
Kalimat ini penting. Sebab ia menunjukkan bahwa infrastruktur tidak selalu harus berupa beton dan aspal.
Infrastruktur juga bisa berupa pengetahuan tubuh tentang medan, jalur kecil yang diwariskan turun-temurun, tempat istirahat, titik air, atau kemampuan membaca musim.
Baca juga: Islam, Hutan, dan Babi Hutan: Membaca Ekologi Keagamaan Orang Sumbawa
Kuda dan Ritme Kehidupan
Di Sumbawa lama, kuda bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah bagian dari ritme hidup.
Kuda membawa hasil ladang, menghubungkan kampung dengan pasar, menjadi sarana perjalanan jauh, sekaligus penanda status sosial.
Dalam banyak catatan lama, jalan-jalan Sumbawa dipenuhi penunggang kuda kecil yang bergerak menuju pasar atau melintasi savana (Kuperus 1936).
Perjalanan sendiri bukan sesuatu yang harus dipercepat sebisa mungkin.
Dalam Karang Rarak: A 1955 Vignette (1967), Goethals menggambarkan perjalanan menuju desa berlangsung perlahan, berjalan kaki, berhenti merokok di sungai, berbincang, memikul barang, melewati kebun, menyaksikan orang mandi atau mencuci di aliran air.
Perjalanan bukan sekadar perpindahan dari titik A ke titik B. Ia bagian dari kehidupan sosial itu sendiri.
Hari ini, pengalaman seperti itu semakin sulit dibayangkan. Jalan modern dirancang untuk menghilangkan hambatan, bukit dipotong, sungai dijembatani, tikungan diluruskan, dan waktu dipersingkat.
Semakin cepat perjalanan, semakin baik infrastruktur dianggap bekerja.
Tetapi ketika seluruh pengalaman ruang direduksi menjadi waktu tempuh kendaraan, ada sesuatu yang perlahan hilang: jeda, ritme, dan hubungan tubuh dengan lanskap.
Jalan Raya dan Imajinasi Kemajuan
Kolonialisme membawa gagasan baru tentang jalan. Dalam dunia kolonial, jalan bukan sekadar alat mobilitas.
Ia juga sarana administrasi, kontrol wilayah, distribusi komoditas, dan penetrasi negara ke pedalaman. Jalan memungkinkan pejabat bergerak lebih cepat, pajak dikumpulkan lebih efisien, dan wilayah-wilayah yang sebelumnya relatif otonom menjadi lebih mudah diawasi.
Dalam Het Eiland Soembawa en Zijn Bevolking yang dipublikasikan di Tijdschrift voor het Binnenlandsche Bestuur tahun 1908, Johannes Evert Jasper memperlihatkan bagaimana perjalanan mulai terkait dengan representasi kekuasaan kolonial dan birokrasi modern.
Perjalanan pejabat pemerintah diperlakukan sebagai bagian dari pertunjukan otoritas negara kolonial. Sejak saat itu, jalan perlahan berubah menjadi simbol kemajuan.
Pandangan ini kemudian diwarisi negara modern setelah kemerdekaan. Desa tanpa jalan raya dianggap tertinggal. Pegunungan dipandang terisolasi. Keterhubungan diukur melalui kendaraan bermotor dan akses aspal.
Padahal, masyarakat Sumbawa selama berabad-abad telah membangun dunia sosial tanpa bergantung pada jalan raya modern.
Mereka hidup dalam ruang yang ritmis, mengikuti musim, mengikuti kemampuan tubuh, mengikuti gerak hewan, mengikuti kontur pegunungan.
Jalan setapak tidak menaklukkan lanskap. Ia menyesuaikan diri dengannya.
Baca juga: "Satama jiwa dalam karang, nya nan", karang sebagai basis identifikasi Orang Sumbawa
Dari Jalur Kuda ke Jalan Tambang
Hari ini, perubahan terbesar mungkin justru tampak pada jenis jalan yang dibangun di banyak wilayah Sumbawa.
Jika dahulu jalur dibuat untuk menghubungkan kampung, pasar, sawah, atau pelabuhan kecil; maka kini banyak jalan dibangun untuk truk besar, distribusi logistik industri, dan ekstraksi sumber daya.
Jalan modern semakin sering mengikuti kebutuhan kapital dan industri ketimbang ritme sosial lokal.
Bukit dipotong agar kendaraan besar dapat melintas. Lereng diperlebar. Jalur-jalur lama hilang. Perjalanan dipercepat bukan demi percakapan antarkampung, melainkan demi kelancaran distribusi komoditas.
Dalam Man, Land and Game in Sumbawa (1984), Michael Dove menunjukkan bahwa pola agraria dan mobilitas masyarakat Sumbawa sebenarnya berkembang sebagai adaptasi terhadap lanskap savana, ladang berpindah, dan ruang ekologis yang lentur.
Infrastruktur modern yang permanen dan berorientasi pada percepatan sering kali membawa logika ruang yang berbeda sama sekali.
Di banyak tempat, jalan raya bukan hanya menghubungkan ruang. Ia juga mengubah cara hidup.
Ketika kendaraan masuk, pola pasar berubah, ritme kerja berubah, hubungan desa-kota berubah, bahkan pengalaman tentang jarak ikut berubah.
Desa yang dahulu terasa “dekat” melalui jalur kuda perlahan menjadi “jauh” ketika tidak terhubung langsung dengan jalan besar.
Apakah Semua Tempat Harus Bergerak dengan Kecepatan yang Sama?
Di banyak tempat di Sumbawa hari ini, suara mesin terdengar jauh lebih sering daripada derap kuda.
Jalan-jalan menjadi lebih lebar, lebih lurus, dan lebih cepat dilalui.
Tetapi bersamaan dengan itu, perjalanan semakin kehilangan banyak hal yang dahulu menyertainya: percakapan panjang di jalur bukit, jeda di tepi sungai, pengetahuan tubuh tentang tanjakan dan musim, atau rasa lega ketika sebuah kampung akhirnya terlihat dari balik punggung savana.
Mungkin inilah yang jarang dihitung dalam gagasan modern tentang infrastruktur, bahwa setiap percepatan selalu menghapus cara tertentu manusia mengalami dunia.
* Peneliti Pusat Riset Kependudukan - BRIN
COPYRIGHT © ANTARA 2026