Mataram, NTB (ANTARA) - Pelemahan nilai tukar rupiah hingga di kisaran Rp17.800 per dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan di tengah dinamika ekonomi global. Dengan kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang impor, tekanan inflasi, dan biaya produksi di berbagai sektor.
Namun di sisi lain, pelemahan rupiah justru dinilai membuka peluang besar bagi sektor pariwisata Indonesia untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.
Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia Ni Luh Puspa menilai kondisi nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS dapat menjadi momentum strategis bagi industri pariwisata nasional. Hal tersebut disampaikan saat BBTF 2026 di Bali.
Menurut Luh Puspa, ketika dolar AS menguat terhadap rupiah, wisatawan asing—terutama dari negara-negara dengan mata uang kuat seperti Amerika Serikat, Australia, Singapura, maupun kawasan Eropa—akan memiliki daya beli yang lebih besar saat berlibur ke Indonesia.
Bagi wisatawan mancanegara, kondisi kurs seperti sekarang tentu memberi keuntungan. Dengan nilai tukar dolar yang lebih tinggi, biaya liburan mereka di Indonesia menjadi relatif lebih murah. Ini bisa menjadi daya tarik tambahan selain keindahan alam, budaya, dan keramahan masyarakat kita, katanya.
Ia menjelaskan, destinasi wisata seperti Bali, Lombok, Labuan Bajo, Yogyakarta, hingga Danau Toba berpotensi mendapat dampak positif dari kondisi tersebut. Wisatawan asing dapat menikmati penginapan, kuliner, transportasi, hingga aktivitas wisata dengan biaya yang lebih kompetitif dibanding negara tujuan wisata lain di kawasan Asia.
Pelaku industri pariwisata di Bali pun mulai merasakan dampaknya. Sejumlah hotel, vila, restoran, dan operator perjalanan menyebut tren pemesanan wisatawan asing masih cukup kuat. Bahkan beberapa pelaku usaha melihat masa pelemahan rupiah justru mendorong wisatawan memperpanjang masa tinggal mereka di Indonesia karena biaya yang dinilai lebih terjangkau.
Ketua asosiasi pariwisata di Bali menyebut wisatawan dari Australia dan Eropa cenderung menganggap Indonesia sebagai destinasi “value for money”, yakni menawarkan pengalaman wisata berkualitas dengan pengeluaran yang lebih rendah dibanding destinasi internasional lainnya.
Tanggapan Ekonom
Ekonom menilai kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan tekanan pada sektor ekonomi lainnya. Indonesia masih bergantung pada impor untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bahan baku industri, energi, peralatan elektronik, hingga pangan tertentu. Ketika rupiah melemah, biaya impor meningkat dan dapat memicu kenaikan harga di dalam negeri.
Dampaknya bisa dirasakan masyarakat melalui naiknya harga kebutuhan pokok, tiket transportasi, hingga biaya operasional usaha yang menggunakan barang impor.
“Pariwisata mungkin mendapatkan keuntungan dari sisi kunjungan wisatawan asing, tetapi sektor lain belum tentu merasakan hal yang sama. Industri yang bergantung pada impor bisa terbebani. Jadi pelemahan rupiah ini seperti dua sisi mata uang,” ujar seorang pengamat ekonomi di Bali.
Bagi pelaku usaha pariwisata sendiri, tantangannya juga tidak sedikit. Hotel dan restoran yang masih menggunakan bahan baku impor seperti daging premium, minuman, peralatan dapur, hingga perlengkapan operasional akan menghadapi kenaikan biaya. Begitu pula maskapai penerbangan yang banyak menanggung pembayaran dalam dolar AS, seperti sewa pesawat, perawatan, dan avtur.
Kementerian Pariwisata terus mendorong penguatan promosi internasional serta peningkatan kualitas destinasi agar wisatawan yang datang tidak hanya banyak secara jumlah, tetapi juga membelanjakan uang lebih besar selama berada di Indonesia.
Ini peluang yang harus dimanfaatkan. Tapi kita tidak boleh bergantung pada kurs. Daya tarik utama Indonesia tetap budaya, alam, pengalaman wisata, serta kualitas layanan yang kita berikan kepada wisatawan,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah juga mendorong wisata berbasis budaya dan masyarakat lokal agar dampak ekonomi pariwisata dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di daerah.
Di Bali misalnya, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pantai atau resor mewah, tetapi juga tertarik pada tradisi, seni pertunjukan, kuliner lokal, hingga kehidupan desa adat. Dengan demikian, pengeluaran wisatawan dapat berputar lebih luas di ekonomi lokal.
Sejumlah pelaku UMKM juga melihat pelemahan rupiah sebagai peluang meningkatkan penjualan produk kerajinan, fesyen lokal, dan kuliner khas kepada wisatawan mancanegara. Dengan nilai tukar yang menguntungkan, wisatawan cenderung lebih leluasa berbelanja oleh-oleh maupun produk kreatif lokal.
Meski begitu, pemerintah tetap dihadapkan pada tantangan menjaga stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Pelemahan rupiah yang berlangsung terlalu lama berisiko memicu ketidakpastian ekonomi dan memengaruhi daya beli masyarakat domestik.
Karena itu, banyak pihak menilai pelemahan rupiah tidak bisa dilihat hanya sebagai peluang atau ancaman semata. Dampaknya sangat bergantung pada kesiapan masing-masing sektor dalam merespons situasi.
Bagi pariwisata, pelemahan rupiah dapat menjadi pintu masuk mendatangkan lebih banyak wisatawan asing dan devisa negara. Namun bagi ekonomi nasional secara luas, stabilitas nilai tukar tetap menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan usaha, investasi, dan kesejahteraan masyarakat.
Dinamika Global
Jika dikelola dengan strategi yang tepat, pelemahan rupiah bisa menjadi momentum memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi wisata unggulan dunia. Tetapi tanpa pengendalian ekonomi yang kuat, kondisi yang sama juga bisa menjadi tekanan bagi sektor lain.
Bagi Indonesia, tantangannya bukan sekadar apakah rupiah melemah atau menguat, melainkan bagaimana mengubah setiap perubahan ekonomi global menjadi peluang pertumbuhan yang berkelanjutan.
Baca juga: Kura rupiah hari ini menguat jadi Rp17.814 per dolar AS
Baca juga: Klinik pariwisata Internasional mendukung pelayanan di kawasan Rinjani
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026