"Sedangkan untuk bencana Gempa Bumi, Karhutla, Kekeringan, Erupsi Gunung Api, dan Tsunami tercatat 0 kejadian pada periode ini,"

Mataram (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Barat mencatat sebanyak 120 kejadian bencana alam di wilayah itu selama periode 1 Januari sampai dengan 31 Mei 2026.

Kepala BPBD NTB Sadimin mengatakan dari 120 kejadian bencana alam ini, bencana banjir yang paling sering terjadi yakni sebanyak 65 kejadian, kemudian cuaca ekstrem 39 kejadian, tanah longsor 13 kejadian, dan gelombang pasang/abrasi 3 kejadian.

"Sedangkan untuk bencana Gempa Bumi, Karhutla, Kekeringan, Erupsi Gunung Api, dan Tsunami tercatat 0 kejadian pada periode ini," ujarnya di Mataram, Rabu.

Ia menyebutkan akibat kejadian bencana selama kurun waktu 1 Januari sampai 31 Mei 2026 tersebut, mengakibatkan 6 orang meninggal dunia, 14 orang luka-luka, dan sebanyak 78.718 jiwa masyarakat yang terdampak.

Kemudian untuk dampak kerusakan terhadap rumah terdapat 547 rumah mengalami kerusakan yang terdiri dari 29 rumah rusak berat, 61 rumah rusak sedang, dan 457 rumah rusak ringan, serta jumlah rumah terendam mencapai 21.739 unit.

"Kalau dampak sosial ekonomi 1.411 hektar sawah rusak, 60 tambak dan 18 pertokoan ikut terendam," ungkap Sadimin.

Menurutnya, bila melihat wilayah bencana dari 10 kabupaten kota di NTB, Kabupaten Bima yang paling banyak dilanda bencana alam dengan 37 kejadian, disusul Kabupaten Lombok Barat 21 kejadian, kemudian Lombok Tengah 18 kejadian, Sumbawa 11 kejadian, Lombok Utara 9 kejadian, Lombok Timur 7 kejadian, Dompu 8 kejadian, Sumbawa Barat 4 kejadian, Mataram 3 kejadian, dan Kota Bima 2 kejadian.

"Ke depan kami berharap upaya mitigasi, tanggap darurat, hingga pasca-bencana di NTB dapat berjalan semakin efektif, terpadu, dan responsif terhadap ancaman bencana serta perubahan iklim," katanya.



Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026