Mataram (ANTARA) - Perum Bulog Kantor Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) mempercepat penyerapan gabah dan beras petani untuk mengejar target pengadaan pangan tahun 2026 yang ditetapkan sebesar 240.661 ton setara beras.
Hingga awal Juni 2026, Bulog NTB telah merealisasikan serapan sebanyak 163.234 ton setara beras atau sekitar 68 persen dari target tahunan. Capaian tersebut ditopang oleh aktivitas panen yang masih berlangsung di sejumlah daerah sentra produksi pangan pada musim tanam kedua.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil NTB, Mara Kamin Siregar, mengatakan pihaknya tetap melakukan pengadaan gabah dan beras secara bersamaan guna memaksimalkan potensi produksi yang masih tersedia di lapangan.
"Target serapan tahun ini sebesar 240.661 ton setara beras. Pengadaan tetap dilakukan untuk gabah dan beras karena potensi masa tanam kedua di berbagai wilayah NTB masih berlangsung bersama mitra pengadaan," katanya.
Ia mengatakan target pengadaan tersebut tersebar di sejumlah wilayah kerja Bulog NTB, meliputi Kabupaten Sumbawa, Bima, dan Lombok Timur yang selama ini menjadi daerah penyumbang produksi padi terbesar di provinsi tersebut.
Untuk mempercepat pencapaian target, Bulog NTB menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya dengan menambah kapasitas penyimpanan melalui pemanfaatan gudang sewa milik mitra maupun pihak swasta.
Menurut Mara, penambahan ruang penyimpanan menjadi kebutuhan penting karena volume gabah dan beras yang diserap terus meningkat seiring berlangsungnya panen di berbagai daerah.
"Kami memanfaatkan gudang sewa dari mitra dan pihak swasta agar kapasitas penyimpanan mencukupi sehingga target serapan yang telah ditetapkan dapat tercapai," ujarnya.
Selain memperkuat sarana penyimpanan, Bulog NTB juga meningkatkan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk TNI dan pemerintah daerah. Sinergi tersebut diwujudkan melalui pembentukan Tim Jemput Pangan (TJP), pemantauan lokasi panen, serta pengawasan harga gabah di tingkat petani.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan harga gabah tidak jatuh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan itu diharapkan mampu memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus menjaga stabilitas harga selama masa panen.
Sementara itu, secara nasional, Perum Bulog mencatat capaian pengadaan yang juga menunjukkan tren positif. Hingga 3 Juni 2026, Bulog telah menyerap 3.008.626 ton setara beras atau sekitar 75 persen dari target nasional sebanyak 4 juta ton.
Direktur Utama Perum Bulog, Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani, menyebut capaian serapan lebih dari 3 juta ton setara beras menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah pengelolaan pangan nasional.
Baca juga: Bulog operasi pasar MinyaKita antisipasi menjelang Idul Adha
"Serapan lebih dari 3 juta ton setara beras menunjukkan kehadiran negara dalam memastikan hasil panen petani terserap dengan baik sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional," katanya.
Ia menambahkan tingginya serapan beras turut memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Saat ini stok beras yang dikelola Bulog telah melampaui 5 juta ton, yang disebut sebagai jumlah tertinggi dalam sejarah modern pengelolaan pangan nasional.
Stok tersebut dinilai cukup untuk mendukung berbagai program pemerintah, mulai dari stabilisasi harga beras, penyaluran bantuan pangan, hingga kebutuhan darurat saat terjadi bencana maupun gejolak pasar.
Baca juga: Gudang sewa Bulog penuh, swasembada pangan menguat
Dengan masih berlangsungnya panen di sejumlah daerah, Bulog optimistis target pengadaan nasional 4 juta ton setara beras dapat tercapai sebelum akhir tahun.
Optimisme serupa juga muncul di NTB karena potensi panen musim tanam kedua diperkirakan masih mampu meningkatkan serapan gabah dan beras dalam beberapa bulan mendatang.
Pewarta : Awaludin
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026