Lombok Timur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat sebanyak 1.223 hewan kurban baik ternak sapi maupun kambing dipotong pada Hari Raya Idul Adha 1447 hijriah/2026.
"Data hasil pemeriksaan petugas kesehatan hewan mencatat 1.223 hewan kurban," kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lombok Timur Hultatang di Lombok Timur, Kamis.
Ia mengatakan ribuan hewan kurban yang dipotong tersebut terdiri dari 477 sapi dan lebih dari 700 kambing, atau meningkat 19,8 persen dibanding tahun sebelumnya.
Peningkatan jumlah hewan kurban itu, menurutnya, jadi indikator positif kondisi ekonomi masyarakat Lombok Timur yang membaik, sekaligus mencerminkan tingginya semangat berkurban.
Sementara itu dalam pengawasan kesehatan hewan kurban pihaknya menaruh perhatian pada dua penyakit yakni cacing hati dan antraks. Cacing hati disebabkan parasit fasciola yang menyerang organ hati ternak.
Meski begitu pihaknya memastikan penyakit tersebut tidak berbahaya bagi manusia selama daging dimasak matang. “Kalau cacing ini tidak menular dari daging ke manusia. Yang penting daging dimasak hingga matang,” katanya.
Baca juga: Bandara Lombok melayani 35 ribu penumpang periode libur Idul Adha
Sementara antraks menjadi perhatian utama karena bersifat zoonosis atau dapat menular dari hewan ke manusia. Penyakit ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan, pernapasan, hingga infeksi kulit.
"Seluruh hewan kurban yang dipotong di Lombok Timur dalam kondisi sehat dan tidak ditemukan indikasi antraks," katanya.
Baca juga: Lembaga filantropi salurkan empat sapi kurban ke wilayah 3T
Namun pengawasan tetap diperketat, kata dia, karena Pulau Sumbawa dikenal sebagai daerah endemis antraks, sehingga potensi penularan lewat lalu lintas ternak tetap diantisipasi.
"Untuk menjamin keamanan, kami menerapkan pemeriksaan ante mortem sebelum pemotongan dan post mortem setelah pemotongan. Petugas kesehatan hewan ditempatkan di seluruh desa guna memastikan ternak yang disembelih memenuhi standar kesehatan," katanya.
Pewarta : Akhyar Rosidi
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026