Mataram (ANTARA) - Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai penghasil rumput laut ketiga terbesar di tingkat nasional dengan produksi sebanyak lebih dari 3,6 juta ton (2019–2023) memiliki potensi ekonomi biru yang besar.
Pengembangan tersebut salah satunya diupayakan melalui pemanfaatan rumput laut menjadi berbagai produk bernilai tambah, termasuk untuk pangan dan produksi bioplastik ramah lingkungan.
Forum Connect! #12 bertajuk Advancing Sustainable Blue Economy Innovation for Resilient and Inclusive Growth yang diselenggarakan oleh KONEKSI, platform kemitraan pengetahuan Australia–Indonesia, menjadi ruang diskusi bersama pemerintah, akademisi dan media mengenai bagaimana rumput laut yang dikembangkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di tingkat tapak dan regional.
Dalam diskusi tersebut, peneliti kolaboratif Australia–Indonesia menjelaskan inovasi pengolahan rumput laut menjadi produk nutrasetikal.
Riset yang dikembangkan oleh peneliti Indonesia dari Universitas Mataram dan Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama South Australian Research and Development Institute, berjudul Commercialising Cultivated Tropical and Temperate Seaweeds as a Sustainable Source of Nutraceuticals for Health and Nutrition.
Riset tersebut menyoroti bahwa lebih dari 86 persen ekspor rumput laut Indonesia bergantung pada satu negara tujuan sehingga harga mudah ditekan dan berdampak pada pendapatan petani.
Selain itu, produksi rumput laut juga tertekan oleh perubahan iklim. Melalui kerja sama dengan petani dan pelaku usaha di Seriwe, Lombok Timur, riset ini mendorong diversifikasi rumput laut dan pengembangan produk pangan bernutrisi tinggi.
Sementara itu, kolaborasi riset PT Bahari Agro Indonesia dan BRIN bersama Central Queensland University serta University of the Sunshine Coast, berjudul EcoSea: Turning Seaweed into Food Packaging Bioplastics and Value-Added Byproducts for a Greener Indonesia, mengembangkan cara mengubah rumput laut jenis spinosum (Eucheuma denticulatum) menjadi beberapa produk bernilai ekonomis dalam satu proses pengolahan.
Baca juga: ITSRC hadir di Teluk Ekas, NTB optimistis krisis bibit rumput laut teratasi
Temuan tersebut menegaskan potensi penerapan prinsip zero waste yang dapat mengurangi limbah sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi industri dan petani rumput laut.
Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Raden Arthur Ario Lelono, mengatakan sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi sumber daya laut yang sangat besar sebagai fondasi pembangunan yang tangguh dan inklusif dalam mendukung pembangunan nasional.
"Secara khusus, hari ini kita akan menyoroti komunitas rumput laut. Melalui teknologi dan inovasi, kita membangun ekosistem nilai tambah yang berdampak pada nilai rumput laut nasional. Saat ini, kita sedang membuktikan bahwa menjaga kelestarian lingkungan dan mengentaskan kemiskinan dapat berjalan beriringan, serta blue economy yang sesungguhnya. Ekonomi yang menumbuhkan kesejahteraan tanpa merusak alam," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Kementerian PPN/Bappenas, Endang Sulastri, menyampaikan apresiasi kepada KONEKSI dan seluruh mitra.
Baca juga: Alih fungsi lahan pesisir pengaruhi produktivitas rumput laut NTB
Menurutnya, forum ini penting untuk mempererat kolaborasi di NTB yang memiliki potensi kelautan besar dan masih menjadi sumber mata pencaharian bagi 35 persen masyarakat.
"Dalam visi Indonesia Emas 2045, ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi ditempatkan sebagai fondasi utama transformasi ekonomi jangka panjang. Dalam konteks tersebut, ekonomi biru menjadi salah satu sektor strategis yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, memperkuat investasi, serta meningkatkan ketahanan terhadap berbagai tantangan global. Pengembangan rumput laut di Indonesia merupakan salah satu agenda yang sangat penting. Selain menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir, rumput laut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah yang dapat memperkuat ekonomi nasional," ujar Endang.
Diskusi Connect! #12 yang diselenggarakan di Universitas Mataram ini disambut baik oleh Rektor Universitas Mataram, Prof Sukardi.
Ia mengatakan kemitraan Universitas Mataram dengan Australia sangat tinggi, tidak hanya di bidang riset dan pendidikan, tetapi juga dalam upaya mendorong pembangunan berkelanjutan.
"Saya meyakini bahwa tantangan global seperti ketahanan pangan, kesehatan, dan perubahan iklim tidak dapat diselesaikan oleh satu negara, satu institusi, atau satu penelitian saja. Kita membutuhkan orkestrasi berbagai disiplin ilmu, negara, dan lembaga pembangunan untuk membangun masa depan yang berkelanjutan. Universitas Mataram sendiri berkomitmen mendukung pengembangan ekonomi biru, termasuk melalui berbagai program pengelolaan limbah (waste management) yang telah kami upayakan untuk diperluas ke berbagai fakultas," kata Sukardi.
Upaya Riset Kolaboratif Dukung Pengembangan Budi Daya Rumput Laut
Penelitian pertama yang dibahas dalam diskusi berhasil mengidentifikasi potensi rumput laut sebagai sumber nutrisi dan bahan baku nutrasetikal bernilai tinggi.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa rumput laut dapat dikembangkan menjadi produk nutrasetikal, pangan fungsional, serta bahan baku industri makanan dan kosmetik yang memiliki nilai tambah melalui proses pengolahan dan hilirisasi.
Peneliti utama dari Universitas Mataram, Eka S Prasedya, menyampaikan bahwa berbagai spesies rumput laut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan dan nutrisi bernilai tambah.
Eka juga menekankan dampak sosialnya, terutama dalam pemberdayaan perempuan yang mencapai sekitar 80 persen keterlibatan dalam budidaya dan pengolahan rumput laut.
Dengan penguatan rantai nilai dan peningkatan produksi, sektor ini berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, meskipun hasil ekonominya masih bergantung pada stabilitas produksi dan tingkat hilirisasi.
Selain berpotensi dikembangkan menjadi produk kesehatan dan nutrisi, rumput laut juga menunjukkan peluang besar sebagai bahan baku berbagai inovasi ramah lingkungan.
Peneliti utama PT Bahari Agro Indonesia, Maya Puspita, menjelaskan bahwa biomassa rumput laut dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti bahan kosmetik, pakan ternak, protein, dan bahan peningkat kualitas bioplastik.
Melalui kolaborasi kedua negara, penelitian ini diharapkan dapat memperluas pemanfaatan rumput laut sekaligus mengurangi polusi plastik di Indonesia.
Maya menekankan bahwa tantangan pengembangan material pengganti plastik tidak hanya membuat bahan yang ramah lingkungan, tetapi juga memastikan solusi tersebut memiliki nilai ekonomi dan dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Karena itu, tim peneliti menerapkan prinsip zero waste dengan memanfaatkan seluruh bagian rumput laut secara optimal. Penelitian ini juga mendorong penggunaan teknologi pengolahan yang lebih ramah lingkungan serta peningkatan kualitas bahan baku melalui edukasi petani dan perbaikan praktik pascapanen sesuai kebutuhan pasar.
Pemaparan hasil riset juga turut dibahas dalam diskusi bersama dengan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim, Direktur Pengembangan Indonesia Timur Bappenas Ika Retna Wulandary, serta Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Prof Yos Sunitiyoso.
Yos Sunitiyoso berharap penguatan riset, hilirisasi, dan kolaborasi lintas pihak dapat semakin mendorong pemanfaatan potensi rumput laut secara berkelanjutan.
Pewarta : Awaludin
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026