Mataram (ANTARA) - Kepolisian Resor Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, memeriksa pejabat kementerian agama (kemenag) terkait kasus dugaan pembakaran yang terjadi di pondok pesantren (ponpes) wilayah Batukliang dengan korban tiga santri.

Kepala Seksi Humas Polres Lombok Tengah, Iptu Lalu Brata Kusnadi melalui sambungan telepon, Kamis, mengatakan pemeriksaan tersebut berlangsung hari ini.

"Iya, hari ini ada yang dimintai keterangan dari pihak kemenag," katanya.

Pemeriksaan tersebut, jelas dia, merupakan tindak lanjut pihaknya melayangkan surat permintaan keterangan, Selasa (9/6).

Ia menyebut permintaan keterangan dari pihak kemenag ini berkaitan dengan pencarian informasi perihal legalitas pondok pesantren yang menjadi lokasi kejadian.

"Karena ponpes 'kan di bawah pengawasan kemenag. Itu yang kami dalami. Apakah sudah ada izin atau tidak, gimana hasilnya nanti kami sampaikan," ucap dia.

Ia mengingatkan kembali bahwa penanganan kasus atas tindak lanjut laporan salah satu orang tua korban ink masih berjalan di tahap penyelidikan.

Baca juga: Pimpinan ponpes di Bima menjadi tersangka kekerasan seksual santri

Dalam tahapan ini kepolisian masih mendalami ada atau tidak unsur kelalaian pihak pondok pesantren hingga mengakibatkan tiga santri menjadi korban.

Oleh karena itu, dalam rangkaian penyelidikan ini kepolisian turut mengumpulkan bukti dari keterangan korban dan pihak keluarga, maupun pengurus pondok pesantren.

Kasus dugaan pembakaran dengan korban tiga santri ini terjadi pada November 2025. Kasus ini pun baru menjadi perhatian publik setelah video yang memperlihatkan korban anak mendapatkan perawatan medis akibat luka bakar viral di media sosial.

Baca juga: Kapolres terbitkan surat penyelidikan kasus pembakaran santri ponpes

Persoalan ini turut mendapat perhatian dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram. Joko Jumadi selaku ketua lembaga tersebut mengaku prihatin usai melihat video korban anak yang diunggah pemilik akun bernama @Tiara Erna BenKinara Cahya.

Dari hasil penelusuran LPA, ketiga korban yang masih duduk di bangku kelas satu madrasah tsanawiyah. Mereka dikabarkan disiram bahan bakar sebelum dibakar oleh santri lain.

Akibat kejadian tersebut, dua korban mengalami luka bakar serius, sementara satu korban lainnya dilaporkan meninggal dunia.

"Ada tiga korban. Dua mengalami luka bakar dan satu meninggal dunia," ucap Joko.

 

 

 

 



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026