Mataram (ANTARA) - Matahari pagi baru naik di ufuk timur Pulau Moyo, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Laut di sekeliling pulau itu masih tenang. Perahu-perahu nelayan berayun pelan di dermaga Desa Labuan Aji. 

Dari kejauhan, gugusan perbukitan hijau berdiri kokoh, seolah menyimpan cerita panjang tentang sebuah pulau yang selama bertahun-tahun hidup dalam keterisolasian.

Di beranda homestay miliknya, Adnan sesekali memeriksa telepon genggam. Bunyi notifikasi pemesanan kamar kini menjadi hal biasa. Padahal, belasan tahun lalu, memiliki telepon seluler di pulau itu belum tentu berarti bisa berkomunikasi.

Ada masa ketika sinyal menjadi sesuatu yang harus dicari, bukan dinikmati.

Warga berjalan menuju bukit. Menembus jalan setapak. Mencari titik tertinggi. Semua dilakukan demi satu panggilan telepon atau satu pesan singkat.

Hari ini, kisah itu terdengar seperti cerita dari masa lalu.

                                                                                           Awal Cerita

Pulau Moyo bukan nama asing di dunia pariwisata. Pulau seluas 350 kilometer persegi di utara Pulau Sumbawa itu pernah dikunjungi Lady Diana. Princess of Wales ini berkunjung pada 1993. Kunjungan istri Pangeran Charles ini membuat Air Terjun Mata Jitu di dalam kawasan hutan Pulau Moyo mendapat julukan "Queen Waterfall".

Tokoh dunia lainnya yang pernah berkunjung, yakni Vokalis The Rolling Stones Mick Jagger. Selain itu, musisi legendaris Inggris David Bowie, serta atlet tenis asal Rusia Maria Sharapova.

Dua pemain sepak bola terkenal, yakni David Beckham, dan Edwin van der Sar, juga pernah menikmati keindahan pulau tersebut.

Sejumlah artis Tanah Air pernah berwisata ke tempat itu. Mereka adalah Nikita Willy, Bunga Citra Lestari, Luna Maya, Marsha Timothy, dan Vino G Bastian.

Namun di balik ketenarannya, masyarakat Pulau Moyo pernah hidup dengan keterbatasan komunikasi yang tidak banyak diketahui wisatawan.

Adnan masih mengingat masa itu dengan jelas.

"Dulu punya HP belum tentu bisa dipakai karena harus mencari sinyal terlebih dahulu, sekarang sebagian besar aktivitas komunikasi dan pemesanan wisata sudah dapat dilakukan secara online," kata Adnan yang sehari-hari berkomunikasi menggunakan kartu AS.

Sekitar 18 tahun lalu, telepon seluler sudah berada di tangan sebagian warga. Namun perangkat itu sering kali hanya menjadi benda mati ketika sinyal menghilang.

Kondisi serupa dirasakan Kepala Desa Labuan Aji, Sofyan.

"Dulu kalau membutuhkan informasi atau harus berkomunikasi, kami harus naik bukit mencari sinyal. Sekarang pemesanan penginapan sudah bisa dilakukan lewat aplikasi dan internet," ujarnya.

Masyarakat kala itu hidup di antara keterbatasan geografis sebuah pulau yang terpisah dari daratan utama. Komunikasi berjalan lambat. Informasi datang terlambat.

Ketika wisatawan ingin mencari penginapan, mereka tidak membuka aplikasi perjalanan. Mereka bertanya dari satu orang ke orang lain.

"Dulu kondisinya berbeda. Belum ada layanan online seperti sekarang. Promosi dan informasi tentang penginapan lebih banyak diperoleh dari cerita mulut ke mulut. Kalau ada wisatawan yang ingin berkunjung, biasanya mereka harus bertanya langsung kepada warga atau orang-orang di sekitar lokasi untuk mendapatkan informasi," tutur Adnan.

Bagi pelaku wisata, promosi bukan perkara membuat konten digital atau memasang iklan daring. Nama penginapan menyebar dari cerita para pelancong yang pernah datang sebelumnya.

 Masa Sulit dan Tantangan

Perubahan mulai terlihat ketika infrastruktur telekomunikasi perlahan hadir di Pulau Moyo sekitar 2011. Waktu itu, Telkomsel mulai membangun 
Base Transceiver Station (BTS).

BTS adalah infrastruktur telekomunikasi nirkabel yang berfungsi sebagai jembatan antara perangkat komunikasi (seperti ponsel atau modem) dan jaringan inti operator seluler. Alat ini berfungsi mengirim dan menerima sinyal radio agar pengguna dapat melakukan panggilan, mengirim pesan, dan mengakses internet.

Namun membangun konektivitas di pulau yang harus ditempuh lebih dari dua jam perjalanan dari Sumbawa Besar bukan pekerjaan mudah.

Saat itu listrik belum tersedia penuh selama 24 jam. Infrastruktur pendukung masih terbatas. Sementara kondisi geografis membuat pembangunan dan pemeliharaan jaringan membutuhkan biaya lebih besar dibandingkan wilayah perkotaan.

Keterbatasan komunikasi tidak hanya mempengaruhi percakapan antarwarga. Dampaknya merembet ke berbagai sektor.

Pelayanan publik berjalan lebih lambat. Akses pendidikan dan informasi terbatas. Pelaku wisata kesulitan menerima reservasi. Bahkan dalam situasi darurat, masyarakat harus berjuang lebih keras untuk melakukan koordinasi.

Ketika berada di wilayah yang tidak terjangkau sinyal, warga harus berjalan hingga sekitar satu kilometer menuju lokasi yang lebih tinggi. Langkah-langkah panjang itu sering dilakukan saat ada kebutuhan mendesak.

Kini, cerita tersebut tinggal kenangan. Sekitar 85 persen wilayah Pulau Moyo telah terjangkau layanan komunikasi. Kehadiran internet perlahan mengubah ritme kehidupan masyarakat.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB Sahlan M Saleh melihat perubahan itu secara langsung.

"Aktivitas komunikasi di kawasan tersebut memang terbatas. Namun, untuk kebutuhan komunikasi dengan pihak luar, saat ini sudah lebih mudah karena tersedia jaringan. Kondisinya jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Dulu, komunikasi masih mengandalkan handy talky (HT) dan telepon satelit. Sekarang akses komunikasi sudah lebih baik sehingga koordinasi dengan pihak luar menjadi lebih mudah," katanya.

Meski demikian, pekerjaan rumah masih ada. Beberapa titik wisata dan akses menuju destinasi masih menghadapi keterbatasan sinyal. Karakter wilayah kepulauan membuat pemeliharaan jaringan memerlukan perhatian khusus.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik NTB, H Ahsanul Khalik mengatakan tantangan terbesar saat ini bukan lagi menghadirkan sinyal untuk pertama kali.

"Tantangan Pulau Moyo kini bukan lagi sekadar menghadirkan sinyal, melainkan memastikan kualitas jaringan tetap andal, menjangkau titik-titik blank spot, dan mampu mendukung pertumbuhan pariwisata digital," ujarnya.

Sejumlah wisatawan menikmati panorama matahari tenggelam di pinggir pantai Pulau Moyo, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. (ANTARA/Dok OJK)

 Titik Balik dan Harapan Baru

Perubahan paling nyata terlihat pada sektor pariwisata.

Jika dahulu wisatawan harus bertanya dari satu warga ke warga lain untuk menemukan penginapan, kini sebagian besar reservasi dilakukan melalui WhatsApp, email, maupun platform digital seperti Agoda dan Traveloka.

Bagi Adnan, konektivitas bukan lagi sekadar alat komunikasi. Ia telah menjadi urat nadi usaha.

Pesan dari calon tamu bisa datang kapan saja. Pembayaran dilakukan melalui transfer bank. Promosi menjangkau wisatawan dari berbagai negara tanpa harus meninggalkan pulau.

Kehadiran internet membuat usaha kecil di Pulau Moyo mampu berbicara langsung kepada dunia.

Perubahan itu ikut tercermin dalam angka kunjungan wisatawan.

Data Desa Labuan Aji menunjukkan jumlah wisatawan yang datang ke Pulau Moyo meningkat dari sekitar 600 orang pada 2023. Angka tersebut naik sekitar 70 persen pada 2024. Pada 2025, jumlah kunjungan melampaui 2.000 wisatawan, dengan sekitar 75 persen merupakan wisatawan mancanegara.

Di balik angka-angka itu, ada perubahan besar yang dirasakan masyarakat.

Internet membantu warga mencari informasi. Membantu pelajar belajar. Membantu pelaku usaha berkembang. Bahkan membantu masyarakat menghadapi keadaan darurat dengan lebih cepat.

Di sisi lain, penguatan jaringan terus dilakukan. Pulau Moyo telah menjadi bagian dari fokus pengembangan jaringan Telkomsel seiring komitmen perusahaan dalam menghadirkan konektivitas hingga wilayah kepulauan dan destinasi strategis di Indonesia. 

Sebagai salah satu destinasi wisata unggulan NTB yang dikenal hingga mancanegara, Pulau Moyo memiliki peran penting. Baik dari sisi masyarakat maupun sektor pariwisata. 

Kini Pulau Moyo tidak lagi sepi. Setiap tahun, wisatawan domestik dan mancanegara datang silih berganti. Pulau yang dijuluki Pulau Lady Diana ini mulai ramai pada Juni. Kunjungan terus meningkat hingga November. Puncak musim wisata berlangsung sekitar empat bulan. Suasana pulau tetap hidup hingga menjelang akhir tahun.

Sebagai perusahaan pelat merah, Telkomsel mengemban tanggung jawab untuk menghadirkan akses telekomunikasi yang merata hingga ke pelosok negeri. Karena itu, perusahaan terus memperkuat kualitas jaringan dan layanan di Pulau Moyo secara bertahap.

Langkah tersebut menjadi penting agar masyarakat lokal bisa berkomunikasi dan mengakses informasi tanpa hambatan. Pelaku usaha wisata juga memerlukannya untuk mengembangkan bisnis. 

Wisatawan pun mengandalkan koneksi yang stabil selama menikmati keindahan Pulau Moyo. Dengan jaringan yang semakin andal, komunikasi dan akses internet tetap dapat dinikmati meski jauh dari pusat perkotaan.

Pulau Moyo sendiri merupakan salah satu pulau terluar di Kabupaten Sumbawa. Karakteristik geografisnya menantang dan menjadi destinasi wisata kelas dunia.  

"Pulau Moyo menjadi perhatian pengembangan jaringan Telkomsel dari tahun 2011, dan di awal tahun 2025 Telkomsel menambah 1 site lagi di Sebotok Pulau Moyo, saat ini total ada 2 site yang OA di Pulau Moyo," kata Manager Corporate Communications, Telkomel Jawa Bali, Erwin Kusumawan.

Telkomsel terus memperkuat layanan telekomunikasi di kawasan kepulauan. Termasuk Pulau Moyo, meski menghadapi berbagai tantangan geografis dan logistik.

Erwin mengatakan, pembangunan jaringan di wilayah kepulauan memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dibandingkan daerah perkotaan. 

Baca juga: Dispar Lombok Tengah menyusun regulasi tata kelola objek wisata

Kondisi pulau yang terpisah dari daratan utama, keterbatasan akses transportasi logistik, serta kebutuhan penyediaan listrik dan jalur transmisi menjadi tantangan utama dalam pengembangan infrastruktur telekomunikasi.

Selain itu, mobilisasi perangkat hingga proses pemeliharaan jaringan membutuhkan waktu dan biaya yang lebih besar. 

"Meski demikian, Telkomsel terus melakukan optimalisasi jaringan melalui berbagai pendekatan teknologi yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah," ujarnya.

Saat ini, Telkomsel mengoperasikan tiga Base Transceiver Station (BTS) di Pulau Moyo. Dua BTS telah beroperasi sejak 2011, sementara satu BTS baru mulai mengudara pada 2025.

Baca juga: Destinasi Orong Bukal Lombok Barat mirip Raja Ampat di Papua

Kehadiran infrastruktur tersebut memungkinkan masyarakat dan wisatawan menikmati layanan komunikasi serta akses internet yang lebih andal saat berada di Pulau Moyo.

Telkomsel menegaskan komitmennya untuk memperluas akses konektivitas hingga wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), termasuk kawasan kepulauan di NTB, dan wilayah Nusa Tenggara lainnya.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui pembangunan dan penguatan infrastruktur jaringan. Selain itu, pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kondisi wilayah dan kolaborasi bersama pemerintah serta berbagai pemangku kepentingan.

Langkah itu menjadi bagian dari upaya menghadirkan konektivitas hingga wilayah kepulauan dan destinasi wisata strategis.

Bagi Pulau Moyo, sinyal kini bukan lagi kemewahan. Ia telah menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat terpencil dengan dunia luas.

Di pulau yang dahulu mengharuskan warganya mendaki bukit demi satu panggilan telepon, kini notifikasi pemesanan kamar muncul setiap hari di layar telepon genggam.

Pulau Moyo mungkin tetap mempertahankan ketenangannya. Ombak masih berdebur pelan di pesisir. Air Terjun Mata Jitu masih mengalir di tengah hutan tropis yang rimbun.

Namun satu hal telah berubah. Pulau yang dulu sulit dihubungi itu kini perlahan terhubung dengan dunia. Dan bagi warga yang pernah mengejar sinyal hingga ke puncak bukit, perubahan itu bukan sekadar soal teknologi. Ia adalah kisah tentang harapan yang akhirnya menemukan jalannya pulang.




Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026