"Transformasi kesehatan nasional yang tengah berlangsung harus tetap menempatkan mutu pelayanan dan aspek kemanusiaan sebagai fondasi utama,"

Lombok Barat (ANTARA) - Lembaga Akreditasi Fasilitas Kesehatan Indonesia (LAFKI) menyatakan bahwa mutu pelayanan dan aspek kemanusiaan harus tetap menjadi fondasi utama dalam melakukan transformasi kesehatan skala nasional.

"Transformasi kesehatan nasional yang tengah berlangsung harus tetap menempatkan mutu pelayanan dan aspek kemanusiaan sebagai fondasi utama," Ketua Panitia Pertemuan Ilmiah Fasilitas Kesehatan Indonesia (PIFKI) IV dan HUT Ke-6 LAFKI, dr. Cashtry Meher di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Sabtu.

Ia menyampaikan bahwa tantangan terbesar dalam transformasi kesehatan saat ini bukan sekadar mempercepat perubahan, melainkan memastikan manfaat perubahan tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat.

"Transformasi yang tidak dirasakan pasien hanya akan menjadi perubahan di atas kertas," ucap dr. Cashtry.

Menurutnya, ukuran keberhasilan transformasi kesehatan pada akhirnya ditentukan oleh kualitas pelayanan yang diterima masyarakat, bukan lagi dilihat dari banyaknya kebijakan maupun teknologi yang diterapkan.

Ia pun tidak memungkiri bahwa digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), maupun modernisasi sistem kesehatan itu penting. Namun, aspek empati tetap menjadi elemen yang tidak dapat tergantikan.

"AI bisa membantu mengambil keputusan lebih cepat, tetapi sampai hari ini belum ada teknologi yang mampu menggantikan empati. Pasien datang bukan hanya membawa data, tetapi juga membawa kecemasan, harapan, dan kepercayaan. Masyarakat tidak menuntut pelayanan yang sempurna, tetapi ingin merasa aman, didengar, dan yakin bahwa mereka berada di tangan yang tepat," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Umun LAFKI, dr. Benny H. Tumbelaka, pada momentum ini menyampaikan bahwa LAFKI akan terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis dalam mendorong peningkatan kualitas pelayanan kesehatan nasional.

"Enam tahun adalah fondasi yang penting. Ke depan, LAFKI ingin memastikan budaya mutu tidak hanya hadir saat proses akreditasi berlangsung, tetapi menjadi bagian dari pelayanan sehari-hari. Mutu harus menjadi budaya kerja, bukan sekadar dokumen penilaian," ujar dr. Benny.

Momentum PIFKI IV yang berlangsung di Kabupaten Lombok Barat ini menjadi penanda enam tahun perjalanan LAFKI dalam mendorong penguatan budaya mutu dan keselamatan pasien di berbagai fasilitas kesehatan Indonesia.

Untuk perayaan tahun ini, LAFKI mengangkat tema "Transformasi Global Mutu Pelayanan Kesehatan Berbasis Kearifan Lokal". Kegiatan ini dihadiri Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, pimpinan fasilitas kesehatan, organisasi profesi, akademisi, serta pemangku kepentingan sektor kesehatan dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam rangkaian kegiatan turut dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara LAFKI dan PT Sucofindo, yang ditandatangani oleh Ketua UMUM LAFKI dan Agus Permadi selaku Direktur Komersial didampingi Komisaris Independen PT Sucofindo.

MoU tersebut sebagai bentuk penguatan kolaborasi dalam mendukung peningkatan mutu, tata kelola, dan pengembangan kapasitas pelayanan kesehatan di Indonesia.

Sebagai bagian dari peringatan HUT ke-6, LAFKI juga menggelar bakti sosial kesehatan di UPT BLUD Puskesmas Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Kegiatan tersebut meliputi skrining kesehatan, konsultasi, edukasi kesehatan, serta pelayanan kesehatan bagi masyarakat.



Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026