Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria meminta kepada seluruh periset di lembaga riset negara itu untuk meningkatkan kualitas proposal penelitian.
"Pemerintah telah memberikan tambahan anggaran riset yang cukup besar. Namun, hingga saat ini jumlah proposal penelitian yang masuk masih jauh di bawah target yang diharapkan," katanya dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Kepala BRIN menilai tantangan BRIN saat ini bukan lagi sekadar keterbatasan dana, melainkan ketersediaan gagasan riset yang kuat, terukur, dan berdampak.
Saat ini, ungkap dia, anggaran riset justru bertambah hingga Rp1,9 triliun. Setelah melalui proses evaluasi, nilai proposal yang dinilai layak baru sekitar Rp150 miliar, jauh dari target penyerapan yang diharapkan mencapai lebih dari Rp1 triliun.
Baca juga: Desa jadi kunci pertumbuhan stabil ekonomi nasional
Arif menekankan persoalan terbesar dunia riset bukan semata keterbatasan anggaran. "Yang lebih mendasar adalah bagaimana peneliti memaknai pekerjaannya," ujarnya menegaskan.
Dalam pandangannya, karya-karya besar lahir ketika pekerjaan bukan lagi sekadar kewajiban administratif. Peneliti yang benar-benar menyatu dengan bidangnya tidak lagi terobsesi pada absensi, target administratif, atau tunjangan kinerja.
Baca juga: Jejak kampung-kampung hilang dan dunia sosial yang bergerak di Sumbawa
Menurut Arif, hampir semua peraih Nobel memiliki pola yang sama, yakni fokus pada satu bidang selama puluhan tahun.
Ia menggarisbawahi peran lembaga riset bukan sekadar mengidentifikasi persoalan, melainkan juga menawarkan solusi berbasis bukti ilmiah. Menurutnya, pemerintah membutuhkan masukan yang cepat, akurat, dan dapat diterapkan dalam proses pengambilan kebijakan.
"Ketika pemerintah menghadapi berbagai tantangan, yang dibutuhkan adalah solusi. Di situlah peran BRIN sebagai think tank pembangunan menjadi sangat penting," ucapnya.
"Riset yang baik bukan hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga mampu memberikan dampak bagi kebijakan, masyarakat, dan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri," tutur Arif Satria.
Pewarta : Sean Filo Muhamad
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026