"Alhamdulillah, setelah kami melakukan komunikasi dengan Pemerintah Provinsi NTB, dan para jagal, hari ini para jagal sudah kembali beraktivitas di RPH Majeluk,"
Mataram (ANTARA) - Dinas Pertanian Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengatakan, Rumah Potong Hewan (RPH) Majeluk Selasa, 16 Juni, kembali beroperasi setelah para jagal sempat mogok pada Senin 15 Juni, akibat tingginya harga ternak sapi.
"Alhamdulillah, setelah kami melakukan komunikasi dengan Pemerintah Provinsi NTB, dan para jagal, hari ini para jagal sudah kembali beraktivitas di RPH Majeluk," kata Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kota Mataram H Lalu Johari di Mataram, Selasa.
Sebelumnya, para jagal di RPH Majeluk merencanakan aksi mogok sampai tiga hari akibat kenaikan harga sapi di pasar ternak yang dipicu karena adanya pengusaha dari luar kota yang membeli sapi ke pasar dengan harga lebih tinggi sehingga jagal lokal tidak bisa membeli ternak dengan harga normal.
"Tapi dengan komunikasi yang kami lakukan langsung, Alhamdulillah aksi tersebut berlangsung sehari dan hari ini RPH Majeluk sudah beroperasi normal kembali," katanya.
Jumlah sapi yang dipotong di RPH Majeluk hari ini langsung normal yakni sebanyak 18 ekor, begitu juga di RPH Gubuq Mamben, Sekarbela, dilakukan pemotongan sebanyak 18 ekor.
"Semoga ke depan, kondisi ini bisa terus dipertahankan untuk menjaga stok kebutuhan daging sapi di pasar tradisional, stabilisasi harga, serta peningkatan pendapatan daerah," katanya.
Kepala Bidang Peternakan Distan Kota Mataram Lalu Hapiludin sebelumnya mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan daging sapi di pasar tradisional, Distan Kota Mataram hanya memberikan rekomendasi sapi potong dari Pulau Sumbawa untuk di potong di RPH.
"Yang kami rekomendasikan adalah sapi potong bukan sapi bibit. Kalau pengiriman sapi bibit ke luar daerah izin sepenuhnya ada di provinsi," katanya.
Sementara untuk sapi bibit, Pemerintah Provinsi NTB sudah memiliki aturan tertentu untuk kuota masing-masing kabupaten/kota se-NTB.
Khusus Kota Mataram, kuota pengiriman bibit sapi ke luar daerah hanya 8 ekor per tahun, dengan ketentuan satu ekor jantan dan 7 ekor betina.
"Kuota Kota Mataram memang relatif paling kecil jika dibandingkan kabupaten/kota lainnya, sebab di Mataram tidak ada lahan luas untuk peternakan sapi," katanya.
Berbeda dengan di kabupaten/kota di Pulau Sumbawa yang mendapat kuota pengiriman sapi bibit sampai 2.075 ekor dengan rincian sebanyak 1.847 ekor betina dan 228 ekor sapi jantan.
Kalau untuk Pulau Lombok secara keseluruhan termasuk Kota Mataram, kuota pengiriman sapi bibit per tahun mencapai 1.560 ekor dengan rincian 1.404 ekor sapi betina dan 158 sapi jantan.
"Dari kuota 1.560 ekor kuota Pulau Lombok, Kota Mataram hanya menyumbang 8 ekor sapi bibit per tahun. Selebihnya, disumbang kabupaten penyangga," katanya.
Karena itulah, tambahnya, untuk kebutuhan daging sapi segar di pasar tradisional, Kota Mataram mendatangkan sapi potong dari Pulau Sumbawa.
Baca juga: Mataram segera koordinasikan harga sapi antisipasi jagal mogok
Baca juga: Pemkot Mataram merenovasi RPH Majeluk rusak akibat puting beliung
Baca juga: Distan Mataram temukan hewan kurban PMK gejala ringan
Pewarta : Nirkomala
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026