Mataram (ANTARA) - Dinas Pendidikan Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat mulai tahun ajaran baru ini menggabungkan sejumlah sekolah dasar (SD) negeri sebagai langkah efisiensi sekaligus upaya peningkatan kualitas layanan pendidikan di kota itu.
"Mulai pendaftaran sistem penerimaan murid baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 kami berlakukan penggabungan beberapa SD negeri," kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram H Yusuf di Mataram, Senin.
SD negeri yang digabung adalah SDN 19 Mataram dengan SDN 15 Mataram, dan SDN 11 Ampenan dengan SDN 14 Ampenan.
Selain itu ada juga SD yang ditutup karena selama beberapa tahun terakhir siswanya kurang dari 10 orang, yakni SDN 36 Ampenan.
Yusuf mengatakan tugas Disdik Kota Mataram kini adalah melakukan pemetaan terhadap guru-guru yang berada di sekolah yang digabung dan ditutup.
"Pemetaan guru itu kini menjadi tugas kami untuk mendistribusikan ke sekolah-sekolah yang kekurangan guru agar bisa merata," katanya.
Karena itu, ia meminta para guru yang berada di sekolah-sekolah yang sudah digabung untuk bersabar menunggu penempatan, karena Disdik kini sedang melakukan pemetaan agar penempatan bisa sesuai dengan kebutuhan.
"Para guru bisa saja ditempatkan lagi ke sekolah yang digabung. Tapi agar sesuai kebutuhan, kami akan kaji terlebih dahulu," katanya.
Baca juga: Hari pertama SPMB di Mataram berjalan lancar
Menurut dia, salah satu faktor utama penggabungan sekolah tersebut karena SDN 19 Mataram selalu kekurangan siswa, sementara lokasinya berdekatan dengan sekolah lain, salah satunya SD Negeri 15 Mataram.
Kebijakan itu juga memiliki implikasi positif terhadap distribusi guru karena dengan penggabungan sekolah akan membantu mengatasi masalah kekurangan guru di Kota Mataram.
"Guru-guru yang bertugas di sekolah yang dimerger segera kami didistribusikan ke sekolah-sekolah yang kekurangan tenaga pendidik," katanya lagi.
Baca juga: Pemkot: silpa APBD 2025 Mataram capai Rp245 miliar
Marzuki Kepala SDN 15 Mataram yang kini berubah nama menjadi SDN 49 Mataram mengatakan, dengan penggabungan sekolah tersebut pihaknya menargetkan menerima siswa sebanyak 80 anak dari sebelumnya sekitar 60 anak.
Untuk mengantisipasi kekurangan kelas, pihaknya menambah jumlah rombongan belajar yang biasanya 28 anak per rombel menjadi maksimal 40 anak.
"Kami tetap buka untuk dua rombel, tapi jumlah per rombel ditambah," katanya.
Pewarta : Nirkomala
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026