Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mendorong upaya pengurangan sampah dari sumber melalui penguatan pengelolaan berbasis masyarakat dan pemanfaatan teknologi yang mampu menekan volume residu.

"Kami harapkan bukan hanya bagaimana membuang sampah, tetapi bagaimana mengurangi sampah yang harus dibuang," kata Wali Kota Mataram Mohan Roliskana di Mataram, Selasa.

Artinya, katanya, jika volume yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) semakin kecil, maka beban lingkungan dan berbagai persoalan yang menyertainya juga akan berkurang.

Pernyataan itu disampaikan dia di sela menerima audiensi General Manager PT Kobexindo Equipment Yoga Pratomo, beserta jajaran. Pertemuan tersebut menjadi ruang diskusi mengenai berbagai inovasi pengelolaan sampah yang dapat diterapkan di Kota Mataram.

Dia mengatakan permasalahan sampah menjadi isu yang sangat sensitif bagi masyarakat, sedangkan di Kota Mataram juga menghadapi tantangan karena lokasi TPA berada di luar wilayah kota, sehingga proses pengangkutan sampah bergantung akses dan kondisi di daerah lain.

Baca juga: Sekda NTB sentil kebiasaan warga buang sampah ke sungai

Oleh karena itu, berbagai upaya terus lakukan Pemerintah Kota Mataram agar volume sampah yang dibuang ke TPA dapat terus berkurang.

Pengelolaan sampah ke depan tidak cukup hanya mengandalkan sistem kumpul, angkut, dan buang, melainkan membutuhkan partisipasi masyarakat dan pengembangan teknologi ramah lingkungan.

General Manager PT Kobexindo Equipment Yoga Pratomo memaparkan sejumlah teknologi pengelolaan sampah yang telah diterapkan di berbagai daerah, salah satunya konsep pengolahan sampah skala komunal dilakukan tingkat lingkungan maupun kecamatan.

"Prinsip yang kami dorong bagaimana sampah dapat diselesaikan sedekat mungkin dengan sumbernya," katanya.

Baca juga: DLH Mataram-PLN menyiapkan kerja sama jual RDF dari pengolahan sampah

Ketika proses pemilahan dan pengolahan dilakukan di tingkat lingkungan, maka volume sampah yang dikirim ke TPA dapat ditekan secara signifikan.

PT Kobexindo Equipment juga memperkenalkan teknologi truk insinerator atau pengolahan sampah bergerak yang memungkinkan proses penanganan dilakukan langsung di lokasi.

Teknologi itu dinilai cocok untuk mendukung berbagai kegiatan berskala besar seperti festival, pameran, kegiatan olahraga, maupun kegiatan internasional.

"Konsep itu memungkinkan sampah ditangani di lokasi kegiatan sehingga yang dibawa ke TPA hanya residu saja sekitar 10 hingga 15 persen," katanya.

Pendekatan tersebut, katanya, menawarkan paradigma baru dalam pengelolaan sampah. TPA tidak lagi menjadi tujuan utama seluruh sampah yang dihasilkan, melainkan hanya menerima residu yang tersisa setelah proses pengolahan dilakukan di tingkat sumber.

Pertemuan antara Pemerintah Kota Mataram dan PT Kobexindo Equipment menjadi langkah awal penjajakan kolaborasi dalam menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, efektif, dan ramah lingkungan.

Di tengah pertumbuhan kota yang terus berlangsung, pemanfaatan teknologi menjadi harapan baru agar persoalan sampah tidak hanya dikelola, tetapi juga dikurangi sejak dari sumbernya.

"Kota yang maju bukan hanya kota yang mampu membuang sampahnya, melainkan kota yang mampu mengolahnya dengan cerdas dan berkelanjutan," katanya.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026