Lombok Timur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan penurunan stunting di daerah setempat menjadi atensi pemerintah pusat melalui program tim pendampingan nasional.
"Kabupaten Lombok Timur menjadi salah satu dari lima daerah di Indonesia yang mendapatkan pendampingan khusus dalam program nasional bersama Kabupaten Bandung Barat, Lebak, Mamuju, dan Landak," kata Wakil Bupati Lombok Timur Edwin Hadiwijaya saat menerima kunjungan kerja tim monitoring pelaksanaan konvergensi penurunan stunting di Lombok Timur, Rabu.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda monitoring dan evaluasi (monev) program pendampingan percepatan penurunan dan pencegahan stunting yang melibatkan Bank Dunia (World Bank), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Poltekkes Kemenkes Mataram.
"Kami ingin memanfaatkan program ini sebaik-baiknya agar upaya pencegahan dan penurunan stunting bisa dilakukan secara lebih mendalam, lebih tepat, dan lebih efektif,” ujarnya.
Wabup mengakui bahwa selama ini salah satu tantangan terbesar dalam penanganan stunting adalah belum terintegrasi data dari berbagai sumber.
Data yang berasal dari Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Tim Pendamping Keluarga, tenaga gizi, hingga kader pembangunan manusia sebelumnya masih tersebar di berbagai sistem.
Baca juga: Pemerintah perkuat komitmen penurunan stunting lewat data presisi
Menurutnya, kehadiran aplikasi yang digunakan dalam program pendampingan ini menjadi terobosan penting karena mampu mengompilasi berbagai sumber data dalam satu platform yang terintegrasi.
"Sehingga memudahkan pemerintah daerah dalam melakukan analisis, pemetaan masalah, serta menentukan intervensi yang tepat," katanya.
Dari hasil analisis data stunting tahun 2024 hingga 2026, ditemukan pola yang relatif sama. Kasus stunting cenderung meningkat setelah anak memasuki usia enam bulan, namun secara bertahap mengalami penurunan ketika anak berusia lebih dari 2,5 tahun.
Baca juga: Intervensi padat nutrisi bisa wujudkan Generasi Emas 2045 bebas stunting
"Temuan tersebut menjadi dasar dalam merancang intervensi yang lebih fokus pada periode kritis pertumbuhan anak," katanya.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur terus menggencarkan berbagai inovasi. Salah satu program unggulan yang saat ini berjalan adalah Juber Genting (Jumat Berkah Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) yang dilaksanakan secara rutin setiap hari Jumat di kantor-kantor desa.
“Gerakan ini menjadi salah satu upaya bersama untuk membantu keluarga yang berisiko stunting melalui keterlibatan berbagai pihak sebagai orang tua asuh,” katanya.
Ia menambahkan bahwa program pendampingan ini tidak berfokus pada intervensi anggaran, melainkan pada penguatan sistem, peningkatan kualitas data, serta pendampingan teknis secara menyeluruh hingga tingkat kecamatan dan desa.
“Perjalanan menurunkan stunting membutuhkan waktu, kesabaran, dan ketelatenan. Karena itu kita harus memperkuat kapasitas para operator dan memastikan data yang masuk benar-benar valid sehingga dapat menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan,” katanya.
Berdasarkan data pada Desember 2025, angka stunting Lombok Timur berada pada 22,39 persen. Sementara pada Januari 2026 kembali muncul kasus baru sebesar 0,8 persen atau sebanyak 545 kasus.
Pewarta : Akhyar Rosidi
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026