Lombok Timur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tetap fokus membangun sumber-sumber air seperti embung, irigasi perpompaan, saluran irigasi, hingga perpipaan dalam perluasan target tanam dan mendukung ketahanan pangan nasional.

“Di Kabupaten Lombok Timur sudah cukup banyak dan menyebar di semua kecamatan yang potensinya tanam padi untuk meningkatkan ketahanan pangan,” kata Kepala Dinas Pertanian Lombok Timur L Fathul Kasturi di Lombok Timur, Selasa.

Ia mengatakan sumber air ini ditujukan untuk menambah indeks pertanaman, karena selama ini target luas tanam di Lombok Timur dalam setahun mencapai 62.000 hektare.

"Dengan tambahan sumber air, target diproyeksikan bisa terlampaui. Dengan luas bertambah, produksi juga akan bertambah secara nominal,” katanya.

Ia mengatakan rata-rata produksi gabah saat ini 7,2 ton per hektare. Dari target 62.000 hektare, lahan baku sawah yang dilindungi atau LP2B seluas 32.000 hektare.

Baca juga: Pemkab Lombok Tengah menyalurkan benih kedelai guna naikkan minat petani

"Pola tanam juga dioptimalkan, lahan yang tadinya tanam 1 kali didongkrak jadi 2 kali, yang 2 kali jadi 3 kali," katanya.

Ia mengatakan animo petani menanam padi dan jagung meningkat. Penyebabnya, selain kesiapan air, pemerintah juga menjamin Harga Pembelian Pemerintah atau HPP untuk padi dan jagung yang disebutnya sangat bagus dan menjanjikan.

“Insya Allah tidak ada penurunan. Justru peningkatan,” katanya.

Ia mengatakan komoditas unggulan lain seperti tembakau juga tetap ditanam berdampingan tanpa mengurangi ketahanan pangan.

Baca juga: Komisi XIII DPR sebut program ketahanan pangan Imipas jadi terobosan

"Untuk itu ada syarat bagi kelompok tani penerima bantuan irigasi, minimal 5-10 hektare lahan ditanami sesuai perjanjian," katanya.

Ia mengatakan menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi ekstrem akibat fenomena El Nino godzilla. Meski kemarau diperkirakan mulai Mei dan puncaknya September 2026, Pemda memastikan ketahanan pangan tetap terjaga.

" El Nino kali ini tidak merata dan bersifat spot-spot sesuai anomali iklim. Kami tidak berpaling dari kondisi seperti itu dan ada langkah-langkah antisipatif serta adaptif yang kami lakukan,” katanya.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026