Istanbul (ANTARA) - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak peningkatan upaya adaptasi terhadap infrastruktur transportasi di Eropa, Asia Tengah, dan Amerika Utara agar mampu menghadapi risiko perubahan iklim yang semakin meningkat.

Komisi Ekonomi PBB untuk Eropa (UNECE) dalam laporan yang dirilis pada Selasa menyatakan bahwa sistem transportasi merupakan elemen penting bagi kelancaran kehidupan masyarakat dan aktivitas ekonomi sehingga gangguan pada sektor tersebut dapat menimbulkan dampak besar bagi komunitas maupun kerugian finansial yang sangat tinggi.

"Sistem transportasi sangat penting untuk menjaga kelancaran kehidupan masyarakat dan perekonomian. Gangguan pada sektor ini dapat membawa dampak serius bagi masyarakat sekaligus menimbulkan kerugian finansial yang besar," kata Sekretaris Eksekutif UNECE, Tatiana Molcean.

Laporan tersebut memproyeksikan bahwa jalan raya, jalur kereta api, jalur pelayaran darat, pelabuhan, dan bandara di kawasan Eropa, Asia Tengah, dan Amerika Utara akan semakin sering menghadapi banjir, gelombang panas ekstrem, kenaikan permukaan laut, serta mencairnya lapisan tanah beku permanen (permafrost) dalam beberapa dekade mendatang.

UNECE memperkirakan infrastruktur transportasi akan mengalami tambahan antara 10 hingga 50 hari setiap tahun dengan suhu di atas 25 derajat Celsius. Bahkan, sejumlah wilayah diperkirakan dapat mengalami hingga 200 hari bersuhu di atas ambang tersebut setiap tahun.

Kondisi itu meningkatkan risiko kerusakan permukaan jalan, deformasi rel kereta api, pemuaian jembatan, hingga kebakaran hutan.

Laporan tersebut menyebut banjir masih menjadi penyebab terbesar kerusakan infrastruktur transportasi akibat perubahan iklim. Sementara itu, infrastruktur di wilayah pesisir diperkirakan akan menghadapi risiko yang semakin besar akibat kenaikan permukaan laut dan badai yang lebih kuat.

Baca juga: Senator Mirah soroti adaptasi pertanian NTB belum berbasis data iklim

UNECE juga memperkirakan bahwa pada 2050 sekitar 70 persen infrastruktur transportasi di kawasan Arktik akan berada di wilayah yang terancam mencairnya lapisan permafrost.

Sementara pada 2100, sekitar 5 juta penduduk Eropa beserta jaringan transportasi yang mereka gunakan diperkirakan akan menghadapi banjir pesisir hampir setiap tahun.

UNECE mendesak pemerintah dan operator infrastruktur untuk memasukkan risiko perubahan iklim ke dalam perencanaan transportasi, memperkuat langkah-langkah ketahanan infrastruktur, serta meningkatkan penilaian terhadap risiko iklim.

Baca juga: NTB mempunyai peluang masuk bursa karbon dari mangrove dan hutan

Lembaga tersebut memperingatkan bahwa keterlambatan dalam mengambil langkah adaptasi akan meningkatkan kerugian ekonomi di masa mendatang.

Laporan itu juga menyoroti sejumlah praktik yang telah diterapkan di beberapa negara, seperti Portugal, Prancis, Jerman, dan Denmark, yang telah mengembangkan berbagai langkah adaptasi, termasuk penggunaan permukaan jalan yang lebih tahan terhadap perubahan iklim, sistem pemantauan jalur kereta api, serta perencanaan adaptasi jangka panjang untuk mengurangi gangguan akibat perubahan iklim.

Sumber: Anadolu

 

 

 

 

 

 



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026