Mataram (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi tahunan di Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai 3,55 persen pada Juni 2026 yang dipengaruhi oleh kelompok pengeluaran pangan serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan meski inflasi tahunan sedikit melambat ketimbang Mei 2025 yang mencapai 3,78 persen, namun angka itu masih berada di atas target inflasi nasional.
"Inflasi tahunan 3,55 persen berada di atas inflasi nasional dan juga di atas batas 2,5 ± 1 persen. Kami harap laju inflasi bisa ditekan agar tidak semakin besar," ujar dia dalam laporan resmi statistik di Mataram, Rabu.
BPS menyebut kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan. Kelompok itu mengalami inflasi sebesar 4,13 persen dengan andil mencapai 1,53 persen terhadap pembentukan inflasi.
Sedangkan, kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi tertinggi hingga 14 persen dengan andil sebesar 0,90 persen.
"Meski pengeluaran pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi dua digit, tetapi bobotnya lebih rendah ketimbang kelompok makanan, minuman dan tembakau," kata Wahyudin.
Berdasarkan wilayah cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK), Kota Bima menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi di Nusa Tenggara Barat dengan angka mencapai 4,88 persen, lalu diikuti Kota Mataram sebesar 3,74 persen dan Kabupaten Sumbawa sebesar 2,85 persen.
Baca juga: BPS Sumbawa melibatkan 279 petugas pada sensus ekonomi 2026
Selain inflasi tahunan, BPS NTB juga mencatat inflasi tahun kalender sebesar 1,79 persen dan inflasi bulanan mencapai 0,44 persen hingga Juni 2026.
Wahyudin memaparkan lima komoditas yang mendorong inflasi bulanan tertinggi adalah bensin dengan andil 0,12 persen, bawang merah 0,05 persen, bawang putih 0,03 persen, cumi-cumi 0,03 persen, serta kubis 0,03 persen.
Adapun lima komoditas mengalami penurunan harga atau deflasi adalah cabai rawit sebesar 0,11 persen, daging ayam ras 0,06 persen, ikan layang 0,02 persen, jagung manis 0,01 persen, dan emas perhiasan 0,01 persen.
Baca juga: Pemkab Lombok Timur-BPS memperkuat komitmen wujudkan satu data
"Ada pengaruh MBG terhadap deflasi pangan, tetapi tidak terlalu besar karena libur baru dimulai pada akhir Juni 2026. Sebagian masyarakat merasakan penurunan harga, terkhusus daging ayam ras dan cabai rawit," pungkas Wahyudin.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026