Mataram (ANTARA) - Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), terus menjaga ketersediaan stok dan pasokan kebutuhan pokok terutama dari komoditas pertanian untuk memastikan ketersediaan barang tetap aman, mencegah kelangkaan dan menstabilkan harga.

"Selain itu, menjaga stok dan pasokan juga dapat menghindari hilangnya potensi penjualan akibat kehabisan persediaan," kata Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram Sri Wahyunida di Mataram, Jumat.

Apalagi, katanya, saat ini harga sejumlah komoditas bahan pokok di pasar tradisional Kota Mataram mengalami penurunan signifikan dalam beberapa hari terakhir, terutama untuk komoditas pertanian seperti bawang merah, cabai rawit, cabai merah keriting, hingga tomat terpantau melandai akibat pasokan yang melimpah dari berbagai daerah sentra produksi.

Stabilitas harga itu, menurut dia, dipicu oleh masuknya masa panen raya di sejumlah kabupaten/kota penyangga. Bahkan, dari luar daerah saat ini sudah memenuhi pasar-pasar utama di Pasar Induk Mandalika.

"Namun demikian, kondisi ini harus terus dipantau agar tidak terjadi kenaikan signifikan secara tiba-tiba. Biasanya begitu, setelah harga turun, tiba-tiba naik lagi," katanya.

Seperti harga bawang merah pada hari Rabu (1/7), turun drastis menjadi Rp25.000 sampai Rp26.000 per kilogram (kg) dari yang sebelumnya sempat menyentuh Rp40.000 per kilogram. Namun pada hari berikutnya kembali naik menjadi Rp28.000 per kilogram.

Baca juga: Bulog jamin kualitas Minyakita di NTB aman

"Hari ini (Jumat, 3/7), naik lagi menjadi Rp30.000 per kilogram. Fluktuasi harga itulah yang perlu kami jaga dari stok dan pasokan, agar kenaikan tidak terjadi secara signifikan," katanya.

Menurut dia, penurunan harga bawang merah sebelumnya dikarenakan stok melimpah akibat panen raya di Bima, Sumbawa, hingga pasokan dari pulau Jawa.

Kondisi serupa terjadi pada komoditas cabai rawit yang kini dipatok Rp37.000 per kilogram. Harga tersebut turun drastis dari harga sebelumnya Rp60.000-Rp70.000 per kilogram.

Penurunan harga cabai rawit dipengaruhi oleh hadirnya jalur distribusi baru, karena biasanya pasar Mataram hanya mengandalkan pasokan dari Lombok Timur, Lombok Barat, atau Jawa, kini Kabupaten Sumbawa mulai menjelma menjadi pemasok cabai.

Baca juga: Disdag Kota Mataram melakukan uji kualitas Minyakita ke Gudang Bulog

"Petani di Sumbawa, juga sudah panen raya. Inilah yang menyebabkan produksi cabai sangat melimpah di pasar," katanya.

Selain hortikultura, ia mengatakan penurunan harga juga merambah ke sektor peternakan seperti harga daging ayam ras terpantau turun ke angka Rp32.000 per kilogram, setelah sebelumnya bertahan pada angka Rp40.000 ribu per kilogram.

Menurut dia, kendati stok kebutuhan pokok saat ini melimpah menjadi berkah bagi konsumen, akan tetapi penurunan harga juga mengindikasikan adanya kelemahan tingkat pasar.

"Berdasarkan koordinasi dan komunikasi kami dengan para pedagang, menyebutkan adanya indikasi penurunan aktivitas belanja masyarakat yang cukup signifikan," katanya.

Indikasi menurunnya daya beli tersebut disinyalir erat kaitannya dengan momentum akhir bulan serta jeda libur sekolah, ujar dia. Kondisi tersebut bertepatan pula dengan dihentikannya sementara program makan bergizi gratis (MBG) selama masa libur, yang selama ini menjadi salah satu motor penggerak serapan komoditas pangan dalam jumlah besar.

"Prinsipnya, untuk kami yang paling penting stok dan pasokan di lapangan tetap aman dan terjaga dengan baik sehingga harga bisa stabil," katanya.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026