Lombok Tengah (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat menggencarkan program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) dalam rangka mempercepat penurunan stunting di daerah itu.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Lombok Timur Muksin di Lombok Timur, Selasa, mengatakan pemerintah daerah terus berupaya menekan angka stunting yang saat ini masih tertinggi di NTB.
"Berdasarkan data terbaru Survei Kesehatan Indonesia (SKE), angka stunting Lombok Timur berada pada posisi 19,46 persen," katanya.
Oleh karena itu, untuk mengejar ketertinggalan itu pemerintah daerah menggunakan momentum saat ini dengan menggenjot program Genting.
Data menunjukkan, dari total 114.047 balita di Lombok Timur, sasaran Genting mencapai 14.000 orang. Namun realisasi capaian genting di Lombok Timur baru 25 persen, masih rendah dibanding kabupaten/kota lain di NTB seperti Sumbawa Barat dan Lombok Tengah yang sudah di atas 100 persen.
“Kami punya tim pendamping keluarga (TPK) yang jumlahnya mencapai tiga ribu lebih akan digerakkan maksimal. Ini akan menjadi kunci suksesnya," katanya.
Ia mengatakan program Genting tidak hanya sebatas pemberian nutrisi, namun juga menyasar perubahan perilaku masyarakat sebagai akar masalah stunting.
Baca juga: NTB meluncurkan program percepatan penurunan stunting
“Stunting ini terjadi akibat perilaku, seperti pernikahan dini dan terkena dampak pada anak. Orang yang paham juga bisa kena akibat pemenuhan ASI tidak dimaksimalkan karena bekerja sibuk,” katanya.
Terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG), Muksin mengatakan hasilnya masih stagnan meski telah berlangsung setahun.
Ia meminta MBG tidak hanya diberikan, tetapi harus dikawal hingga benar-benar dikonsumsi balita.
Baca juga: Menu MBG 3B berbasis protein efektif cegah stunting
“MBG semua anak balita diberikan. Tapi pengawasannya juga tetap dilakukan, kami tidak tahu MBG itu dikonsumsi atau tidak," katanya.
"Mestinya dikawal hingga mereka memakan, jangan hanya dilepas saja karena banyak yang tidak mau memakan MBG," katanya.
Pewarta : Akhyar Rosidi
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026