Mataram (ANTARA) - Dinas Perindustrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat memberikan bantuan sebanyak 50 unit mesin jahit kepada peserta pelatihan menjahit untuk meningkatkan kapasitas produksi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM (Disperinkop UKM) Kota Mataram Jemmy Nelwan di Mataram, Rabu, mengatakan bantuan 50 unit mesin jahit tersebut diberikan kepada 50 peserta yang sudah mengikuti pelatihan menjahit.
"Mereka yang kami berikan mesin jahit, sebelumnya sudah mengikuti pelatihan menjahit yang kami laksanakan awal Juni 2026," katanya.
Ia mengatakan program pelatihan menjahit tersebut diikuti sebanyak 50 peserta dari enam kecamatan se-Kota Mataram, mereka ada yang sudah bisa menjahit dan ada yang baru mulai menjahit.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan dasar-dasar untuk menjahit selama empat hari, setelah itu mereka tetap didampingi hingga mampu berkarya dan berinovasi dengan bantuan mesin jahit tersebut.
Baca juga: Mastercard Strive meningkatkan kapasitas 500 ribu pengusaha UMK
"Untuk anggaran kegiatan pelatihan menjahit tersebut bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) sekitar Rp2 miliar, tapi anggaran itu termasuk untuk beberapa kegiatan pelatihan usaha lainnya," katanya.
Dalam perekrutan peserta pelatihan, katanya, pihaknya telah membagi link pendaftaran yang harus diisi bagi masyarakat yang berminat dan masuk dalam kategori desil 1-5.
Dengan memberikan pelatihan menjahit dan mesin jahit sebagai modal awal, katanya, diharapkan dapat memberdayakan ekonomi masyarakat serta mengentaskan kemiskinan melalui penyediaan sarana prasarana usaha produktif.
Baca juga: Pemkot Mataram menyerahkan bantuan alat pembuat kue guna kemandirian UKM
Setelah pelatihan dan mendapat bantuan, diharapkan peserta setidaknya bisa mulai membuka usaha dengan menerima jahitan baju yang dipotong, dikecilkan atau robek.
Setelah pelatihan, pihaknya terus memantau perkembangan peserta. Jika ada yang ingin memperdalam atau meningkatkan ilmu menjahit hingga mampu membuat berbagai model baju, celana dan lainnya, mereka bisa mengikuti pelatihan lanjutan.
"Dengan keterbatasan anggaran, kami hanya bisa melaksanakan pelatihan selama empat hari dan itu kami rasa sangat kurang. Karena itulah, peserta terus didampingi dan dipantau," katanya.
Pewarta : Nirkomala
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026