Bima (ANTARA) - Kebakaran yang menghanguskan sekitar 1.956 hektare kawasan savana di Taman Nasional (TN) Tambora, Nusa Tenggara Barat, mengancam kelestarian kawasan konservasi yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Cagar Biosfer Dunia sekaligus berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor pariwisata dan jasa lingkungan.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Januanto Nugroho dalam pernyataan tertulis yang diterima di Bima, Kamis, mengatakan dampak kebakaran hutan tidak hanya dirasakan oleh ekosistem, tetapi juga masyarakat yang hidup di sekitar kawasan.

"Setiap kebakaran hutan harus dipandang sebagai persoalan yang menyangkut kepentingan publik. Ketika hutan terbakar, masyarakat sekitar menjadi pihak yang pertama merasakan dampaknya, mulai dari kualitas udara, aktivitas ekonomi, hingga terganggunya fungsi lingkungan yang menopang kehidupan," katanya.

Menurut dia, pengendalian kebakaran hutan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar pencegahan menjadi budaya bersama.

Taman Nasional Tambora merupakan kawasan pelestarian alam seluas 71.645,64 hektare yang menjadi habitat berbagai satwa liar dilindungi, di antaranya Kakatua Kecil Jambul Kuning, Nuri Kepala Merah, Kirik-kirik Australia, dan Rusa Timor.

Selain berfungsi sebagai benteng keanekaragaman hayati, kawasan tersebut juga menjadi destinasi wisata alam yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui aktivitas pariwisata dan pemanfaatan jasa lingkungan.

Baca juga: Kemenhut intensifkan pemadaman kebakaran 1.956 hektare savana TN Tambora

Kepala Balai Taman Nasional Tambora Abdul Azis Bakry mengatakan perlindungan kawasan tidak berhenti setelah api berhasil dikendalikan, tetapi akan dilanjutkan melalui pemulihan ekosistem secara bertahap.

Menurut dia, upaya pemulihan mencakup rehabilitasi kawasan terdampak, penguatan patroli, peningkatan sistem deteksi dini, serta pelibatan masyarakat dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan.

"Taman Nasional Tambora merupakan rumah bagi berbagai jenis satwa liar sekaligus bentang alam yang memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Pemulihan kawasan akan dilakukan secara bertahap agar fungsi ekologis kawasan serta manfaatnya bagi masyarakat tetap terjaga untuk jangka panjang," ujarnya.

Baca juga: Kemenhut dan tim gabungan padamkan kebakaran hutan Sembalun-NTB

Sementara itu, hingga saat ini operasi pemadaman di kawasan Taman Nasional Tambora masih terus berlangsung dengan melibatkan personel Balai TN Tambora, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, dan berbagai unsur terkait untuk mencegah meluasnya kebakaran ke kawasan konservasi yang masih tersisa.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026