Lombok Barat, NTB (ANTARA) - Kementerian Pekerjaan Umum menyatakan Bendungan Meninting, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), memasok sumber air baku sebesar 0,15 meter kubik per detik bagi sekitar 100 ribu jiwa.

"Dari keterbatasan air saat kemarau menjadi ladang air baku sebesar 0,15 meter kubik per detik yang meningkatkan cakupan pelayanan air minum menjadi kurang lebih 100 ribu jiwa," kata Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo saat melakukan kunjungan kerja ke Bendungan Meninting, Lombok Barat, NTB, Jumat.

Dody mengatakan Bendungan Meninting merupakan salah satu dari lima bendungan yang diresmikan secara serentak bersama Bendungan Keureuto dan Rukoh di Aceh, Bendungan Sidan di Bali, serta Bendungan Jlantah di Jawa Tengah.

Selain menyediakan air baku, imbuh dia, Bendungan Meninting juga memiliki kapasitas tampung sekitar 10 juta meter kubik yang dimanfaatkan sepanjang tahun untuk memenuhi kebutuhan irigasi bagi 1.500 hektare sawah di Lombok Barat dan Kota Mataram.

Bendungan tersebut dilengkapi jaringan irigasi sepanjang kurang lebih 26 kilometer. Lahan pertanian yang sebelumnya hanya mengandalkan hujan kini dapat ditanami hingga tiga kali dalam setahun dengan produktivitas mencapai 6,3 ton per hektare.

"Pekerjaan irigasi terus kami lakukan untuk memastikan agar air benar-benar sampai kepada lahan pertanian," ucap Dody.

Baca juga: Prabowo resmikan lima bendungan dari Lombok Barat

Lebih lanjut dia menegaskan ukuran keberhasilan pembangunan bendungan tidak lagi hanya diukur dari selesainya konstruksi, melainkan dari manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Bendungan Meninting memberikan manfaat sebagai pengendali banjir bagi wilayah Kecamatan Gunungsari, Lingsar, Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat, serta Kecamatan Ampenan, wilayah Kota Mataram.

Baca juga: Presiden Prabowo dijadwalkan resmikan Bendungan Meninting di NTB

Bendungan setinggi 74 meter dengan panjang puncak 260 meter tersebut memiliki potensi pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung, pariwisata, dan ekonomi kerakyatan.

"Bendungan wajib berfungsi memberikan manfaat maksimal untuk petani dan seluruh masyarakat. Air harus mengalir, sawah wajib terairi, dan manfaat harus dijaga," sebut Dody.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026