Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mewajibkan sekitar 41 ribu siswa baru SMA, SMK, dan SLB untuk menanam satu pohon cabai sebagai bagian dari upaya pengendalian laju inflasi pangan di wilayah tersebut.
"Ini bukan sekadar menanam cabai. Anak-anak belajar menyemai, merawat, memanen, hingga memasarkan hasilnya," kata Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal di Mataram, Rabu.
Iqbal mengatakan kebijakan itu lahir dari pengalaman daerah saat lonjakan harga cabai menjadi penyumbang utama inflasi, sehingga pemerintah harus mendatangkan pasokan dari luar daerah dengan biaya yang tinggi.
Pada Februari 2025, harga cabai rawit di Nusa Tenggara Barat sempat menembus angka Rp200 ribu per kilogram dan menjadi topik perbincangan nasional.
Saat itu jumlah produksi cabai rawit menurun 63,64 persen membuat stok cabai menipis hanya dalam waktu satu bulan akibat hujan ekstrem yang dipengaruhi fenomena La Nina.
Pada Maret 2026, cabai rawit juga mahal di rentang harga Rp150 ribu per kilogram yang juga akibat cuaca buruk serta berbarengan dengan Ramadhan. Cabai rawit sebanyak 1,18 ton mesti didatangkan dari Kabupaten Enkerang, Sulawesi Selatan, untuk mengendalikan gejolak inflasi.
Baca juga: Disdik Mataram distribusi siswa baru menumpuk guna pemerataan
Iqbal menuturkan sebanyak 41 ribu siswa baru diproyeksikan mampu menghasilkan cadangan lebih dari 20 ton cabai apabila seluruh tanaman tumbuh dan dipanen.
Ia berharap hasil panen cabai yang dilakukan para siswa baru bisa menjadi salah satu instrumen pengendalian inflasi daerah sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis keluarga.
Program tanam cabai yang dilakukan siswa sekolah dirancang sebagai media pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan karakter, kepedulian terhadap lingkungan, dan kewirausahaan bagi para siswa.
Baca juga: DPRD NTB minta SPMB SMA/SMK berjalan transparan dan objektif
Gerakan itu menjadi salah satu model sinergi antara sektor pendidikan dan pertanian dalam mendukung pengendalian inflasi daerah melalui partisipasi aktif peserta didik sejak dini.
"Mereka belajar bertanggung jawab, peduli terhadap lingkungan, sekaligus membangun keterampilan hidup yang kelak berguna bagi masa depan mereka," ucap Iqbal.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026