Laki-laki mengucapkan kata-kata. Perempuan yang mengerjakan tindakannya. Keduanya diperlukan — tapi tanpa tangan perempuan, ritual itu tidak selesai, dan panen tidak mendapat perlindungan yang diperlukan
Mataram (ANTARA) - Catatan dari pegunungan Sumbawa Barat, 1955
Bayangkan sebuah desa yang tidak bisa bertahan tanpa separuh penghuninya.
Bukan dalam pengertian kiasan. Dalam pengertian yang paling harfiah: jika perempuan berhenti bekerja selama satu musim saja, tidak akan ada benih yang disemai, tidak akan ada ladang yang disiangi, tidak akan ada air yang diangkut, tidak ada gula di dapur, tidak ada kain di tubuh anak-anak, dan tidak ada padi yang ditumbuk menjadi beras.
Desa Rarak di kaki pegunungan Sumbawa Barat pernah didokumentasikan secara sangat rinci oleh seorang peneliti Amerika bernama Peter R. Goethals antara 1954 dan 1956.
Ia tinggal di sana hampir dua tahun, mencatat segalanya: sistem pertanian, struktur pemerintahan, ritual keagamaan, sengketa tanah, hingga cara orang Rarak mengambil keputusan bersama.
Hasil penelitiannya diterbitkan oleh Cornell University Press dan menjadi salah satu dokumentasi paling lengkap tentang kehidupan desa Sumbawa yang pernah ada.
Dan dari catatan-catatan itu, satu hal menjadi jelas: perempuan Rarak adalah poros yang menopang seluruh kehidupan.
Suara yang Menuntun Ke Desa
Pada suatu pagi Juli 1955, Goethals berjalan bersama seorang warga desa menuju Rarak. Mereka melewati semak sang yang berduri, menyeberangi sungai yang surut, mendaki jalan berdebu dari kota Sumbawa Besar.
Jauh sebelum desa terlihat, mereka sudah mendengarnya.
Bunyi tumbukan yang berirama — bertalu-talu, berlapis-lapis — memenuhi udara pegunungan. Goethals menulis bahwa bunyi itu "menuntun kami seperti sinyal radio ke arah desa." Ia menyebutnya sebagai obbligato yang meresap dalam kehidupan setiap kampung Sumbawa.
Itu adalah suara perempuan menumbuk padi
Tiga lapisan bunyi sekaligus: gemuruh rantok — lesung kayu sepanjang enam kaki yang dipakai tiga perempuan bersama, masing-masing menghantamkan alu dengan ritme yang saling mengisi; detak teratur dari nisong — alat tumbuk tegak — di mana seorang ibu dan putri remajanya berdiri berhadapan, bergantian mengayunkan alu dalam gerakan sepanjang lengan; dan dentam tidak beraturan dari empat atau enam gadis berusia sekitar dua belas tahun yang sedang belajar, menghantam-hantamkan alu ke tumpukan padi di halaman.
Bukan suara laki-laki. Bukan suara pemimpin desa. Bukan suara masjid. Yang pertama kali terdengar dari sebuah desa Sumbawa — yang menandakan bahwa komunitas itu hidup — adalah suara perempuan bekerja.
Penjaga Benih, Penjaga Masa Depan
Di Rarak, pertanian menggunakan sistem ladang berpindah: lahan dibabat, dibakar, ditanami, lalu dibiarkan beristirahat beberapa tahun sebelum diolah kembali. Setiap musim tanam, keluarga meninggalkan rumah permanen di desa dan pindah ke rumah ladang sementara — balé rau — sebuah bilik kecil di tengah lereng yang penuh ancaman.
Di sana, tugas pertama yang harus dilakukan sebelum musim tanam adalah menyiapkan benih.
Siapa yang mengumpulkan, mengeringkan, dan menyimpan benih tanaman dari musim sebelumnya? Goethals mencatatnya dengan tegas: "Biasanya istrinyalah yang telah mengumpulkan, mengeringkan, dan menyimpan benih-benih ini dari musim tanam sebelumnya." Benih padi memang menjadi tanggung jawab suami — tetapi semua benih tanaman lain sepenuhnya di tangan istri: benih kacang-kacangan, labu, tomat, cabai, ketimun, dan terong yang ditanam di sela-sela ladang padi.
Bayangkan apa artinya ini. Jika istri tidak menyisihkan dan merawat benih-benih itu sepanjang musim kering, musim tanam berikutnya tidak akan ada tanaman pendamping. Tidak ada sumber protein. Tidak ada sumber vitamin. Hanya padi — yang sendiri pun tidak selalu cukup.
Dan justru tanaman-tanaman inilah yang menyelamatkan banyak keluarga ketika padi hampir habis.
Musim yang Paling Berat
Goethals mendokumentasikan sebuah periode yang ia sebut remong entin — "memeluk lutut" — yang datang setiap tahun antara bulan Januari hingga menjelang panen April. Cadangan padi dari musim lalu sudah menipis. Banyak keluarga hanya makan satu kali sehari. Anak-anak mulai menunjukkan rambut berwarna oranye di bawah sinar matahari — tanda kekurangan protein yang disebut kwashiorkor. Orang tua jatuh sakit: malaria, radang paru, nyeri sendi. Tubuh melemah karena kurang makan, tetapi ladang tetap harus dijaga.
Siapa yang paling banyak terlihat di ladang dalam kondisi seperti itu? Goethals menulis: "Kehidupan seorang ibu rumah tangga Rarak di musim tanam tak terelakkan lebih terfokus di sekitar rumah ladang." Sementara suami pergi memancing, berburu madu, atau mengunjungi desa lain, istri tetap tinggal — menjaga ladang, memasak dari bahan yang semakin sedikit, merawat anak yang sakit, dan mengangkut air dalam bambu-bambu panjang (latok) dari mata air terdekat.
Mengangkut air bukan pekerjaan suami. Goethals mencatat dengan hati-hati: meski suami "akan membantu" urusan air, "itu bukan pekerjaannya yang konsisten." Artinya: perempuanlah yang memastikan air tersedia setiap hari.
Dalam kondisi fisik yang sudah melemah, di tengah musim yang paling keras, perempuan Rarak tetap berdiri.
Penyiang yang Membuat Padi Bisa Bernafas
Ada satu pekerjaan yang paling menentukan keberhasilan panen, yang paling melelahkan sepanjang musim tanam, dan yang hampir seluruhnya dikerjakan oleh perempuan: penyiangan.
Semak sang mamong — tanaman berduri yang diperkenalkan Belanda sekitar tahun 1930 untuk mencegah erosi — tumbuh kembali hanya dua minggu setelah lahan dibakar. Jika tidak disiangi, semak ini akan mencekik bibit padi sebelum sempat tumbuh tinggi. Ia juga menyembunyikan lubang-lubang tikus, sarang semut, dan tanda-tanda awal serangan hama yang harus dideteksi sejak dini.
Goethals mencatat bahwa para laki-laki "hampir tidak pernah terlihat membersihkan semak dari ladang." Beberapa orang bahkan "terang-terangan meremehkan penyiangan sebagai pekerjaan laki-laki." Maka yang menanggung beban itu adalah "perempuan dalam rumah tangga — istri, putri remaja atau dewasa, dan mungkin nenek yang tinggal bersama." Mereka membungkuk di bawah topi lebar, mencabut atau memotong rumpun sang dengan tangan, pisau suami, atau cangkul kecil yang disebut sobáq.
Tanpa penyiangan, tidak ada panen. Tanpa penyiangan yang dikerjakan oleh perempuan, tidak ada yang melakukannya.
Kuler dan Jaringan yang Menghidupi Desa
Pada suatu sore yang sama, Goethals berdiri di beranda rumah Anin memandang lereng di bawah desa. Tiba-tiba ada kilatan warna: rombongan perempuan Rarak, berpakaian cerah terbaik mereka, baru kembali dari pasar kota. Bakul-bakul datar yang berat bertengger tenang di atas kepala mereka.
Di garis depan: Kuler
Goethals menulis tentangnya dengan kata-kata yang jarang ia gunakan untuk siapa pun dalam seluruh penelitiannya: "perempuan pedagang yang paling cerdas dan paling bersemangat di desa."
Kuler — seorang gadis Sasak yang menikah dan menetap di Rarak — pergi ke pasar kota tiga kali seminggu selama musim kemarau. Ia membawa sayuran segar, padi, dan tembakau untuk ditukar di pasar atau di toko-toko dengan gula, ikan asin, rokok, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Sesampainya di rumah, rumahnya berubah menjadi toko. Ibu-ibu desa berkerumun di berandanya untuk barter — mendapatkan kain cetak, minyak tanah, tembakau dataran rendah, dan gula yang tidak bisa mereka hasilkan sendiri di pegunungan.
Tanpa Kuler, tidak ada gula di dapur. Tidak ada kain untuk pakaian anak. Tidak ada minyak tanah untuk penerangan. Tidak ada ikan asin sebagai lauk di bulan-bulan ketika daging sulit didapat.
Dan Kuler bukan satu-satunya. Sebelum memasuki Rarak, Goethals dan Anin sudah menjumpai sekitar dua belas pedagang di tengah jalan — "kebanyakan perempuan" — membawa bakul-bakul pisang, jeruk nipis, dan daun gambir menuju pasar kota. Mereka pergi sebelum matahari tinggi, agar tiba di pasar saat barang masih segar dan harga masih bagus.
Goethals juga mencatat sesuatu yang sepintas tampak seperti keluhan biasa, tapi sesungguhnya adalah pengakuan penting: para suami sering mengeluh bahwa uang ekstra yang mereka hasilkan "secepat itu pula sudah dibelanjakan oleh istri-istri mereka."
Kalimat itu sesungguhnya mengatakan ini: perempuanlah yang memutuskan apa yang perlu dibeli dan kapan membelinya. Merekalah yang mengelola logistik rumah tangga — dari kapan harus membeli kain baru untuk anak, hingga berapa cadangan gula yang harus tersimpan menjelang musim pesta.
Tangan yang Menyelesaikan Ritual
Ada satu hal lagi yang jarang disadari: dalam ritual-ritual penting yang menentukan nasib panen dan keselamatan keluarga, perempuan bukan sekadar penonton. Perempuan adalah tangan yang melaksanakannya.
Goethals mendokumentasikan sebuah upacara yang disebut biso tijan tau — "memandikan perut" — untuk perempuan yang hamil tujuh bulan. Laki-laki memimpin doa dan pembacaan ayat suci. Tapi ketika doa selesai, perempuan hamil dibawa oleh seorang njai — istri dari pemimpin desa — ke sungai. Hanya perempuan yang boleh hadir.
Di sanalah njai memandikan, memijat, dan membubuhi tubuh perempuan hamil itu dengan ramuan khusus dari abu sekam padi dan sari jeruk nipis. Tanpa tangan njai, ritual itu tidak bisa berlangsung.
Ritual yang sama dilakukan untuk padi. Ketika tanaman padi mulai memasuki fase yang dianggap "mengandung," Lebe Tamiq — pemimpin keagamaan desa — memimpin doa dan pembacaan kitab suci. Tapi yang kemudian maju dan secara fisik mengoles ramuan ke ikatan-ikatan padi, menuangkan air bersih, dan menaburkan pasta obat ke malai-malai padi adalah istrinya, Njai Hamadjija.
Laki-laki mengucapkan kata-kata. Perempuan yang mengerjakan tindakannya. Keduanya diperlukan — tapi tanpa tangan perempuan, ritual itu tidak selesai, dan panen tidak mendapat perlindungan yang diperlukan.
Beranda Ibu Mertua Anin
Kita kembali ke pagi Juli 1955 itu
Ketika Goethals tiba di beranda rumah Anin, ia menemukan dua perempuan yang sudah bekerja. Lonar, istri Anin, berdiri dalam pakaian kerja hitamnya (keriq lamong), membantu suami membasuh peluh perjalanan. Di ujung beranda lain, ibu mertua Lonar duduk di antara bakul-bakul kapas kering, tangannya bergerak tanpa henti memutar roda pemintal (djentera).
Goethals bertanya kepada sang nenek: kain apa yang akan ia buat dari benang itu? Ia menjawab: sarung untuk dirinya sendiri, kain untuk baju perjalanan Anin, dan — ia menambahkan dengan tenang — sebagian benang akan ia berikan kepada menantu barunya yang baru pindah dari sebuah desa terpencil di pedalaman.
Seorang perempuan tua, di beranda rumah, memutar benang untuk tiga kebutuhan sekaligus. Untuk dirinya. Untuk menantunya. Untuk suami putrinya yang akan bepergian. Tangannya tidak pernah berhenti.
Tidak lama kemudian Lonar datang dari belakang rumah, membawa nampan kaleng berisi cangkir kopi dan piring pisang goreng panas.
Ia berlutut, meletakkan nampan di antara tamu dan suaminya, lalu kembali ke dapur.
Di malam hari, ketika bulan sedang terang dan suasana desa meriah menjelang pekan pesta, Goethals mencatat bahwa banyak perempuan akan bekerja di halaman desa hingga lewat tengah malam. Api dari sekam padi berkobar-kobar.
Suara tumbukan padi kembali terdengar — perempuan berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil untuk memulai sesi menumbuk malam. Di malam-malam seperti itu, kata Goethals, para perempuan sering menyanyikan syair-syair — humoris atau penuh kenangan — untuk mengusir kebosanan dari pekerjaan mereka yang paling tak pernah ada habisnya.
Laki-laki dan anak-anak laki-laki berkumpul di beranda-beranda terdekat atau berdiri di sisi api, mengobrol, menghisap cerutu, dan mendengarkan nyanyian perempuan-perempuan mereka.
Yang Selalu Ada
Tujuh dekade telah berlalu sejak Goethals mencatat semua ini. Desa Rarak masih ada. Pegunungan Sumbawa Barat masih ada. Kemungkinan besar, masih ada perempuan yang bangun sebelum fajar, yang mengelola benih, yang berjalan jauh untuk keperluan keluarga, yang menyelesaikan ritual dengan tangannya sendiri.
Yang berubah mungkin adalah bentuknya — telepon genggam menggantikan bakul di kepala, pasar yang lebih dekat, anak-anak yang pergi sekolah. Tapi logika dasarnya mungkin tidak banyak bergeser: kehidupan desa berjalan karena perempuan mengerjakan apa yang perlu dikerjakan, setiap hari, tanpa menunggu pengakuan.
Catatan Goethals memberi kita sesuatu yang berharga: bukti bahwa ini bukan sesuatu yang baru. Ini adalah cara Rarak bertahan selama berabad-abad. Bukan hanya karena ladangnya subur atau pemimpinnya bijaksana — tetapi karena perempuannya kuat, cerdas, dan tidak pernah benar-benar berhenti.
Suara lesung padi yang menuntun seorang peneliti asing ke desa pada suatu pagi Juli 1955 itu adalah suara yang sama yang sudah mengisi pegunungan Sumbawa jauh sebelum siapa pun menuliskannya.
Tulisan ini disusun berdasarkan tiga karya Peter R. Goethals: "Karang Rarak: A 1955 Vignette" (jurnal Indonesia, No. 4, 1967), "Rarak: The Annual Swidden Cycle" (jurnal Indonesia, No. 20, 1975), dan Aspects of Local Government in a Sumbawan Village, Cornell University Press, 1961. Seluruh nama, peristiwa, kutipan, dan detail dalam tulisan ini bersumber langsung dari ketiga karya tersebut.
Baca juga: Pabowat Adji: Ketika Pekerjaan Menjadi Identitas di Kesultanan Sumbawa
Baca juga: Pabowat Adji: Ketika Pekerjaan Menjadi Identitas di Kesultanan Sumbawa
Baca juga: Bagaimana Tau Samawa Dibentuk:Membaca Kembali Peter R. Goethals tentang Identitas, Mobilitas, dan Perubahan Sosial di Sumbawa
Baca juga: Siapa yang Kamu Pilih, Siapa yang Orang Tuamu Pilih
COPYRIGHT © ANTARA 2026