Mataram (ANTARA) - Empat mahasiswa Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram mengikuti Exploration Camp Competition (ECC) 2026 yang diselenggarakan Balai Taman Nasional Meru Betiri pada 1–5 Agustus 2026 yang menjadi bagian dari peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2026.
Keempat mahasiswa tersebut adalah Ence Vido Ananta Bijaksana, Rangga Nugrah Pratama, Solatia Nifa, dan Gian Suhaliana. Mereka bergabung bersama 44 tim yang terdiri atas 176 peserta dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, hingga Kalimantan.
ECC 2026 juga diikuti mahasiswa internasional asal Pakistan, Afghanistan, Bangladesh, Nigeria, Thailand, dan Mesir yang tergabung dalam International Student Community. Keberagaman peserta menjadikan kegiatan tersebut tidak hanya sebagai ajang eksplorasi alam, tetapi juga sebagai ruang pertemuan lintas budaya.
Kegiatan dimulai dari Pantai Bandealit, kemudian dilanjutkan dengan penjelajahan alam sejauh sekitar 21,47 kilometer. Jalur tersebut terbagi menjadi tiga etape dengan sejumlah pos pemeriksaan dan melintasi Pantai Bandealit, Teluk Meru, Teluk Permisan, hingga Pantai Sukamade.
Peserta harus melewati medan yang cukup berat, seperti sungai, jalur berbatu, pohon tumbang, serta tanjakan dan turunan terjal dengan membawa tas ransel berisi perlengkapan perjalanan. Kondisi tersebut menguji ketahanan fisik, kesiapan mental, kemampuan beradaptasi, dan kerja sama setiap tim.
Selain penjelajahan alam, rangkaian ECC 2026 meliputi eksplorasi dan dokumentasi tumbuhan serta satwa liar, sesi berbagi pengetahuan, diskusi konservasi, penanaman mangrove, dan pelepasan tukik penyu hijau.
Taman Nasional Meru Betiri diketahui memiliki lebih dari 500 jenis flora dan 325 jenis fauna yang telah teridentifikasi.
Sepanjang perjalanan, peserta diperkenalkan dengan berbagai jenis tumbuhan dan satwa, antara lain rekisi (Dehaasia pugerensis), cabai jawa, rangkong badak (Buceros rhinoceros), cekakak jawa (Halcyon cyanoventris), elang jawa (Nisaetus bartelsi), lutung jawa (Trachypithecus auratus), babi hutan (Sus scrofa), dan penyu hijau (Chelonia mydas).
Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempelajari ekosistem hutan musim dataran rendah secara langsung.
Peserta juga memperoleh pengetahuan mengenai tumbuhan lokal yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan bahan obat, sekaligus memahami peluang pengembangan bioprospeksi yang tetap memperhatikan prinsip kelestarian.
Salah satu pengalaman paling berkesan bagi tim Universitas Mataram adalah proses penjelajahan yang mengharuskan setiap anggota saling membantu dalam kondisi perbekalan dan kemampuan fisik yang terbatas. Interaksi dengan peserta dari berbagai daerah dan negara turut memperkaya pengalaman mereka selama mengikuti kegiatan.
Pelepasan tukik penyu hijau juga memberikan pelajaran penting mengenai beratnya perjuangan satwa liar untuk bertahan hidup. Tukik harus menghadapi berbagai ancaman, mulai dari predator alami, perubahan kondisi lingkungan, pencemaran, kerusakan habitat, hingga aktivitas manusia.
Melalui ECC 2026, para peserta semakin memahami peran strategis Taman Nasional Meru Betiri sebagai salah satu benteng terakhir bagi berbagai tumbuhan dan satwa langka di kawasan hutan dataran rendah Pulau Jawa. Keanekaragaman hayati di kawasan tersebut juga merupakan sumber daya genetik yang penting untuk mendukung adaptasi ekosistem terhadap perubahan iklim dan bencana.
Keterlibatan generasi muda dalam kegiatan konservasi menjadi semakin penting di tengah tekanan terhadap kawasan hutan, seperti degradasi lahan, perburuan satwa, perubahan iklim, dan pemanfaatan sumber daya alam yang tidak berkelanjutan. Pengalaman lapangan dinilai dapat membangun pemahaman konservasi yang lebih kuat dibandingkan pembelajaran yang hanya mengandalkan teori di ruang kelas.
Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai kompetisi dan petualangan semata, tetapi menjadi titik awal bagi peserta untuk terlibat lebih aktif dalam perlindungan keanekaragaman hayati. ECC 2026 juga membuka kesempatan bagi generasi muda untuk membangun jejaring dengan sesama pemerhati lingkungan dari berbagai latar belakang.
Di tengah perbedaan suku, agama, budaya, dan negara asal, para peserta membawa satu kesadaran yang sama: bumi merupakan ruang hidup bersama yang harus dijaga. Konservasi bukan hanya tugas pemerintah atau pengelola kawasan, melainkan tanggung jawab bersama yang perlu diteruskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya
Pewarta : Pewarta Antara
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026