Mataram (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena awan tebal saat siang yang muncul dalam beberapa hari terakhir di Kota Mataram, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).  

Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Ari Wibianto mengatakan awan yang menghalangi sinar matahari tersebut merupakan hasil kombinasi angin laut dan konveksi termal harian di tengah kondisi puncak musim kemarau.

"Angin laut berperan dalam menyuplai uap air dari laut, sementara panas matahari siang mendorong uap air tersebut naik ke atas hingga berubah menjadi awan," ujarnya di Mataram, Selasa.

Ari menuturkan kemunculan awan saat siang hari tidak serta-merta meningkatkan kelembapan udara maupun peluang hujan yang signifikan di wilayah Mataram.

Menurut dia, kondisi atmosfer saat ini masih dipengaruhi oleh fenomena El Nino kuat dengan indeks NINO 3.4 berada pada angka +2,37 derajat Celcius yang berperan menekan pembentukan awan dan pola konvektif di wilayah Indonesia.   

Bahkan secara umum Monsun Australia cenderung lebih kuat dari kondisi normal. Angin monsun membawa udara kering dan dingin dari Australia menuju ke utara, yakni Indonesia terutama wilayah Nusa Tenggara.  

Baca juga: Hari Selasa, Jakarta diprakirakan cerah berawan

"Kemunculan awan tersebut hanya fenomena pembentukan awan harian yang lazim terjadi saat kemarau dalam skala konveksi lokal, bukan pertanda meningkatnya kelembapan atau peluang hujan secara signifikan," kata Ari.   

Analisa BMKG menyebutkan ada beberapa faktor yang turut menyebabkan awan di siang hari tidak berkembang menjadi hujan pada sore hari.  

Pada puncak kemarau, lapisan udara di atas terkunci oleh massa udara kering akibat monsun Australia, sehingga awan rendah atau Cumulus yang terbentuk di siang hari tidak mampu menembus lapisan tersebut untuk tumbuh tinggi menjadi awan hujan.    

Menjelang sore, intensitas sinar matahari memudar, sehingga dorongan udara naik atau konveksi menjadi terhenti.   

Baca juga: BMKG memprakirakan hujan ringan bakal guyur sejumlah kota pada Senin

"Tanpa pasokan uap air baru dan suhu yang mulai mendingin, gumpalan awan yang tipis tersebut justru terpecah oleh angin dan menguap kembali ke atmosfer sebelum sempat menjatuhkan titik-titik air," papar Ari.    

Lebih lanjut dia menyampaikan masyarakat awam dapat membedakan awan yang hanya terbentuk akibat konveksi lokal dengan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.   

Awan yang berpotensi hujan secara umum memiliki dasar berwarna abu-abu gelap hingga kehitaman dan bentuk yang menjulang tinggi serta tebal ke atas. Kondisi tersebut menandakan pertumbuhan awan Cumulonimbus yang berkembang secara vertikal dan dapat menghasilkan hujan.

"Awan itu juga mendorong udara dingin dari atas langsung ke bawah hingga ke permukaan tanah, menandakan bahwa awan Cumulonimbus telah memasuki fase puncak dan siap menjatuhkan hujan," pungkas Ari. 

 



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026