Lombok Barat (ANTARA) - Objek wisata pemandian alam Bunut Ngengkang yang berlokasi Desa Buwun Sejati, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) menghadapi kekeringan akibat kemarau musiman yang kerap terjadi setiap tahun.
Seorang pedagang bernama Siti mengatakan kondisi aliran sungai yang mengering berlangsung sekitar satu bulan terakhir dan umum bertahan tiga sampai empat bulan ke depan.
"Kekeringan ini baru satu bulan, kadang-kadang air datangnya dua bulan atau tiga bulan, saya tahu waktunya datang, waktunya kering juga saya tahu," ujar dia saat ditemui pada objek pemandian Bunut Ngengkang di Lombok Barat, Selasa.
Kondisi objek pemandian yang mengering membuat sebagian besar pedagang memilih menutup warung dan meliburkan diri hingga aliran mata air kembali normal.
Siti mengaku tetap berjualan setiap hari meski kondisi pemandian sedang kering demi memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Nilai penjualan mengalami penurunan drastis akibat jumlah pengunjung yang berkurang.
Menurut dia, sejumlah wisatawan asing masih terlihat berkunjung ke kawasan tersebut meski kemarau membuat objek wisata terdampak kekeringan.
"Kalo ada air bisa dapat Rp500 ribu, tapi kalau sekarang sehari dapat Rp20 ribu sampai Rp25 ribu," kata Siti.
Wisata Bunut Ngengkang terletak di tengah Hutan Sesaot yang berada persis di kaki Gunung Argapura. Destinasi itu menyajikan pemandian alami dengan air berwarna biru toska, suasana sejuk, dan asri.
Penduduk setempat bernama Saiman mengatakan kekeringan hanya terjadi pada aliran sungai yang menjadi lokasi pemandian, sedangkan kebutuhan air bersih masyarakat untuk keperluan sehari-hari masih tercukupi.
"Yang kering air sungai saja. Kalau untuk sehari-hari air tetap ada di rumah, airnya dari pipa buat di sekitar sini saja," ucap Saiman.
Baca juga: Kampung Adat Ende menjadi alternatif wisata budaya pascakebakaran Sade
Lebih lanjut dia menyampaikan kondisi sungai dan mata air yang mengering merupakan fenomena yang terjadi setiap musim kemarau dan akan kembali normal ketika hujan turun.
Aktivitas masyarakat sekitar tetap berjalan normal walau objek pemandian mengering akibat kemarau. Sementara sebagian pedagang dan pengelola wisata memilih meliburkan aktivitas pariwisata dan beralih sementara ke sektor perkebunan.
Baca juga: Gunung Rinjani buka pendakian secara terbatas mulai 1 September 2026
Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut musim kemarau yang terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) berpeluang berlangsung hingga akhir November 2026.
Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini mengatakan musim hujan yang biasanya terjadi pada November diperkirakan mengalami kemunduran hingga Desember akibat pengaruh El Nino sangat kuat dengan indeks mencapai +2,74 derajat Celcius.
Pewarta : Sugiharto Purnama dan Novia Aulia
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026