Lombok Tengah (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, menetapkan enam puskesmas sebagai puskesmas inklusif untuk memastikan akses layanan kesehatan yang setara bagi penyandang disabilitas dan kelompok rentan.

Penetapan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Nomor 375 Tahun 2026 tentang Penetapan dan Penyelenggaraan Puskesmas Inklusif.

"Penetapan puskesmas inklusif itu untuk meningkatkan pelayanan dan memastikan layanan kesehatan dapat diakses secara setara oleh penyandang disabilitas serta kelompok rentan," kata Sekretaris Daerah Lombok Tengah Lalu Firman Wijaya di Lombok Tengah, Rabu.

Ia mengatakan dari 30 puskesmas di Lombok Tengah, baru enam puskesmas yang dijadikan percontohan di antaranya Puskesmas Puyung, Puskesmas Praya, Bonjeruk, Pengadang, Ubung, dan Puskesmas Kopang.

"Langkah ini merupakan hasil kolaborasi yang telah dilaksanakan bersama kelompok disabilitas dan lembaga lainnya, serta hasil evaluasi pelayanan," katanya.

Ia mengatakan untuk penerapan pelayanan di puskesmas inklusif itu lebih kepada sarana dan prasarana yang ramah disabilitas sesuai dengan masukan dari masyarakat.

Sementara itu, Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Nusa Tenggara Barat Sri Sukarni mengatakan penyandang disabilitas tidak membutuhkan perlakuan khusus atau prioritas, mereka hanya membutuhkan kesempatan yang sama dalam mengakses layanan kesehatan.

Baca juga: Pelayanan TRC Ambulans Sumbawa Barat terintegrasi satu komando

Menurut Sri, konsep puskesmas inklusif tidak berhenti pada akses masuk ke gedung. Aksesibilitas juga mencakup sarana-prasarana dan kemampuan petugas memahami kebutuhan pasien dengan ragam disabilitas.

Pengguna kursi roda, misalnya, memiliki kebutuhan berbeda dengan penyandang disabilitas sensorik. Karena itu, fasilitas kesehatan harus menerapkan prinsip desain universal sejak tahap perencanaan.

Baca juga: Pembangunan Puskesmas Sakra Timur Lombok Timur rampung

Persoalan sederhana seperti toilet pun dapat menjadi hambatan. Bagi perempuan pengguna kursi roda, kondisi tersebut bisa semakin kompleks ketika sedang hamil.

"Kalau sudah bisa diakses oleh penyandang disabilitas, tentunya sarana dan prasarana itu akan bisa diakses pula oleh semua orang," ujarnya.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026