"Selama ini tidak ada sebuah buku tentang juru bicara dan panduan atau SOP (standar operasional prosedur) yang secara teks dan juga praktik. Ini adalah upaya untuk membuat sebuah pemahaman yang lebih jelas agar siapa pun bisa menjadi juru bicara,"
Jakarta (ANTARA) - Praktisi komunikasi sekaligus Direktur Utama LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar, merilis buku "Juru Bicara Perspektif Manajemen Komunikasi Politik di Era Disrupsi" sebagai bekal bagi komunikator agar bisa menciptakan komunikasi yang berdampak tak hanya sekadar sebagai penyambung pesan.
Buku ini ditulis bersama Marlinda Irwanti Poernomo yang juga memiliki latar belakang kuat sebagai akademisi dan praktisi komunikasi massa dan disiapkan untuk memberi perspektif dan menjawab tantangan yang saat ini dihadapi banyak juru bicara di era disrupsi digital.
"Selama ini tidak ada sebuah buku tentang juru bicara dan panduan atau SOP (standar operasional prosedur) yang secara teks dan juga praktik. Ini adalah upaya untuk membuat sebuah pemahaman yang lebih jelas agar siapa pun bisa menjadi juru bicara," kata Benny dalam peluncuran bukunya di ANTARA Heritage Center, Jakarta Pusat, Jumat.
Benny menjelaskan bahwa dalam menjalankan tugas komunikator ada tiga aspek yang harus dipenuhi oleh seorang juru bicara, yaitu menjelaskan, meyakinkan, dan memengaruhi.
Namun, fakta di lapangan saat ini menunjukkan bahwa peran juru bicara di Indonesia belum menyentuh aspek yang memengaruhi penerima pesan dan baru sebatas menjelaskan.
"Berdasarkan keprihatinan itu, saya mencoba bersama teman-teman dan juga Profesor Marlinda untuk membentuk sebuah struktur atau sebuah panduan. Kemudian berkembang menjadi sebuah buku," kata Benny.
Dalam buku ini, Benny menjadikan pengalaman nyatanya sebagai praktisi komunikasi, dimulai dari wartawan, beralih ke korporasi seperti perusahaan penerbangan, perusahaan logistik pangan, hingga badan komunikasi pemerintahan sebagai bahan pembelajaran bagi pembaca untuk menjadi seorang juru bicara yang berdampak.
Penulis lainnya dari buku "Juru Bicara", Marlinda Irwanti Poernomo, mengatakan bahwa buku ini hadir untuk memberi perspektif yang lebih jelas mengenai peran juru bicara, khususnya pada lembaga-lembaga pemerintahan.
Ia sedikit membocorkan pesan dalam buku ini agar juru bicara harus bisa menjadi Chief Reinssurance Officer memastikan komunikasi berdampak tidak menghilangkan suatu masalah, tapi justru memberikan rasa kepercayaan bagi penerima pesan bahwa sebuah masalah ditangani dengan tepat.
"Buku ini menawarkan peran juru bicara sebagai Chief Reinssurance Officer. Bukan orang yang membuat masalah tanpa tidak ada, tetapi orang yang membuat masyarakat percaya bahwa masalah yang nyata sedang dihadapi dengan serius oleh pemerintah ataupun swasta," kata Marlinda.
Buku ini mendapat sambutan positif dalam peluncurannya, termasuk dari Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari yang ikut memberikan pidato kunci.
Ia menyebutkan bahwa hadirnya buku ini memberikan gambaran yang jelas mengenai struktur dan cara melakukan komunikasi di bidang pemerintahan agar bisa berjalan dengan optimal.
"Jadi saya yakin relevansi buku ini sangat kuat dan sangat tinggi dengan situasi dan kondisi di lapangan. Mudah-mudahan ini bisa jadi referensi bagi para praktisi dan bagi para pembelajar komunikasi di seluruh Tanah Air," kata Qodari.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Buku "JURU BICARA" beri perspektif & bekal agar komunikator berdampak
Pewarta : Livia Kristianti
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026