Mataram (ANTARA) - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat (Disnakeswan NTB) mengatakan belum menerima laporan adanya hewan ternak yang terdampak kekeringan meski kemarau panjang melanda wilayah tersebut sejak April 2026.

"Sampai saat ini belum ada (ternak terdampak kekeringan)," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB Muhamad Riady saat dihubungi di Mataram, Senin.

Kemarau panjang menyebabkan padang savana sejumlah wilayah di Pulau Sumbawa mengering, termasuk kawasan sekitar Gunung Tambora yang menjadi salah satu lokasi penggembalaan ternak.

Sebagian peternak di Pulau Sumbawa menerapkan pola pemeliharaan ternak secara lepas sehingga sapi dapat mencari pakan secara mandiri pada kawasan penggembalaan.

Riady mengatakan ternak ruminansia berupa sapi dan kerbau relatif mampu beradaptasi dengan kondisi ketersediaan pakan yang terbatas selama musim kemarau.

Menurut dia, kondisi tersebut berbeda dengan musim hujan lantaran ketersediaan rumput muda dan basah justru dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada ternak apabila dikonsumsi tanpa terlebih dahulu dibuat layu.

Baca juga: Dinas Keswan Lombok Timur buru anjing liar yang menelan korban jiwa

"Ternak ruminansia memang sudah terbiasa makan rumput kering. Yang sering jadi masalah justru pada saat musim hujan, banyak sapi atau kerbau yang perutnya kembung karena makan rumput masih muda atau basah tanpa dilayukan," ujar Riady.

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB telah menetapkan status siaga darurat kekeringan dengan rincian lima kota dan satu kota berstatus siaga darurat kekeringan, serta tiga kabupaten berstatus tanggap darurat kekeringan.

Kepala Pelaksana BPBD NTB Sadimin memaparkan bencana kekeringan berdampak pada 66 kecamatan, 227 desa, 84.837 kepala keluarga dan 263.310 jiwa di Nusa Tenggara Barat. Jumlah air bersih yang telah didistribusikan kepada masyarakat terdampak kekeringan mencapai 3,38 juta liter.

Baca juga: Keswan Mataram temukan kasus penyakit mata hewan kurban

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau yang terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak awal April 2026 berpeluang berlangsung hingga akhir November 2026.

Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini mengatakan musim hujan yang biasanya terjadi pada November diperkirakan mengalami kemunduran hingga Desember akibat pengaruh El Nino sangat kuat dengan indeks mencapai +2,74 derajat Celcius.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026