Kami berharap Sumbawa semakin dikenal dunia internasional. Ini juga ajang promosi untuk peningkatan kualitas kepariwisataan Sumbawa.
Sumbawa (ANTARA) - Kedatangan 15 kapal yacht yang membawa puluhan wisatawan mancanegara ke Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, pada 18-23 September 2026 tidak hanya menambah kunjungan wisata, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui pengalaman budaya, belanja produk UMKM, dan eksplorasi objek wisata bahari.
Gambaran itu terlihat saat para yachter mendekati atraksi Karaci di Pantai Saliper Ate, Kecamatan Labuhan Badas, Senin (21/9). Dua wisatawan asal Inggris, Mark dan May, bahkan mencoba langsung tradisi adu ketangkasan khas Sumbawa tersebut.
Atraksi Karaci adalah tradisi adu pukul menggunakan rotan atau kayu pilihan, dan setiap peserta mengenakan tameng atau perisai dari kulit kambing atau kerbau.
Wisatawan lainnya memilih menyaksikan dari dekat. Mereka mengambil gambar, tertawa, mengikuti penjelasan warga, dan menikmati setiap gerakan dalam pertunjukan.
Sebagian, bahkan rela berlama-lama di lokasi dan mengikuti penjelasan masyarakat, meski agenda utama telah berakhir. Interaksi sederhana itu menjadi pengalaman yang tidak diperoleh hanya dengan melihat Sumbawa dari atas kapal.
Sebelum memasuki Kabupaten Sumbawa, rombongan terlebih dahulu singgah di Kota Bima dan Kabupaten Bima untuk menikmati sejumlah objek wisata serta mengenal bentang alam dan budaya Pulau Sumbawa.
Rombongan kemudian melanjutkan pelayaran dan memasuki Kabupaten Sumbawa pada 18 hingga 23 September untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang mempertemukan mereka dengan tradisi, sejarah, produk lokal, dan kawasan bahari.
Para peserta berasal dari sejumlah negara, antara lain Amerika Serikat, Australia, Singapura, Inggris, Prancis, Swedia, Selandia Baru, dan Argentina.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Sumbawa Tata Kostara mengatakan kunjungan tersebut menjadi kesempatan memperkenalkan daerah kepada wisatawan dari berbagai negara.
"Kami berharap Sumbawa semakin dikenal dunia internasional. Ini juga ajang promosi untuk peningkatan kualitas kepariwisataan Sumbawa,” ujarnya.
Tradisi jadi pengalaman
Cerita perjalanan para yachter di Sumbawa tidak berhenti pada laut dan panorama pesisir. Mereka diajak melihat kehidupan daerah melalui budaya dan tradisi yang masih dipertahankan masyarakat.
Setelah Karaci, rombongan diperkenalkan dengan Barapan Kebo, tradisi pacuan kerbau yang menjadi salah satu identitas budaya Sumbawa.
Nancy, wisatawan asal Amerika Serikat, bahkan mendapat kesempatan mencoba menjadi joki dalam tradisi tersebut.
Wisatawan itu mengaku sangat menikmati pengalaman tersebut. Apalagi, dia juga merasa diterima dengan hangat, diajak berinteraksi, berfoto, bahkan berenang bersama hiu paus dalam waktu cukup lama. Pengalaman itu, hanya dia rasakan di Indonesia, terutama di Sumbawa.
Bagi Nancy dan peserta lainnya, kesempatan terlibat langsung membuat tradisi yang sebelumnya hanya mereka kenal sebagai tontonan menjadi pengalaman personal.
Rombongan kemudian diajak keliling kota dengan mengunjungi sejumlah situs sejarah dan warisan budaya, antara lain Istana Dalam Loka, Istana Bala Puti, Istana Bala Kuning, Makam Gunung Setia, serta sumber mata air Buen Ai Awak.
Dari kawasan pesisir menuju pusat kota, mereka melihat sisi lain Sumbawa. Laut menawarkan panorama dan kekayaan bawah air, sementara kawasan daratan menyimpan jejak sejarah, arsitektur tradisional, serta tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat.
Gerakkan ekonomi lokal
Perjalanan tersebut, sekaligus mempertemukan peserta dengan pelaku usaha lokal. Sejumlah UMKM binaan Pemerintah Kabupaten Sumbawa memperkenalkan produk khas daerah, seperti wastra, kopi, susu kuda liar, madu, suvenir bertema hiu paus, serta berbagai produk pariwisata.
Transaksi selama rangkaian kegiatan dilaporkan mencapai puluhan juta rupiah pada empat UMKM binaan pemerintah daerah.
Aktivitas itu memperlihatkan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara dapat memberi dampak langsung kepada pelaku usaha ketika perjalanan mereka terhubung dengan produk dan aktivitas masyarakat.
Pergerakan rombongan dari kawasan pesisir menuju pusat kota juga membuka peluang bagi perajin, penyedia jasa, dan pelaku usaha lainnya untuk memperoleh manfaat dari aktivitas pariwisata.
Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Sumbawa menargetkan kunjungan tersebut dapat mendorong pergerakan ekonomi masyarakat.
Menuju ekonomi bahari
Setelah menikmati tradisi dan produk lokal, perjalanan para yachter kembali membawa mereka ke laut melalui kunjungan ke Teluk Saleh.
Salah satu tujuan mereka adalah kawasan pengamatan hiu paus. Berdasarkan pemantauan terbaru, terdapat 174 individu hiu paus yang teridentifikasi di Teluk Saleh, termasuk individu yang masih berusia muda.
Bupati Sumbawa H Syarafuddin Jarot mengatakan keberadaan tersebut menunjukkan pentingnya Teluk Saleh sebagai habitat hiu paus, sekaligus kawasan yang memiliki nilai konservasi dan pariwisata.
Fakta ini, bagi pemerintah daerah, menunjukkan bahwa Teluk Saleh bukan sekadar tempat hiu paus singgah, tetapi merupakan habitat penting bagi mereka.
Bagi pemkab, kekuatan pariwisata Sumbawa tidak hanya bertumpu pada kekayaan alam. Tradisi, kuliner, kerajinan, dan keramahan masyarakat juga menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.
Karena itu, diharapkan setiap kecamatan dapat mengangkat keunikan masing-masing, sehingga wisatawan memiliki lebih banyak pilihan kegiatan dan alasan untuk memperpanjang masa tinggal.
Dalam konteks pengembangan ekonomi bahari, Pemerintah Kabupaten Sumbawa juga mendorong kawasan Samota yang mencakup Teluk Saleh, Moyo, dan Tambora sebagai kawasan strategis dengan potensi pariwisata dan kelautan.
Penyelenggara Sail Indonesia Raymond T Lesmana mengatakan kegiatan tersebut telah berlangsung sejak 2017 dan terus mempertemukan peserta dengan berbagai daerah di Indonesia.
Sejak tahun 2017, dari 43 kabupaten dan tujuh kota yang disinggahi, Labuhan Jambu dinilai yang paling cepat dalam menyiapkan infrastruktur baharinya. Lokasi itu bukan sekadar tempat singgah, tapi menjadi hub wisata bahari, mulai dari memancing, surfing, hingga snorkeling.
Bagi penyelenggara, garis pantai Sumbawa yang panjang memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai jaringan objek wisata bahari. Pengembangan tersebut perlu didukung fasilitas, konektivitas, dan pelabuhan wisata yang memadai.
Yacht Rally Sail to Indonesia 2026 berlangsung pada 15 Juli hingga 4 November 2026 dengan sejumlah titik persinggahan di Indonesia. Kegiatan tahunan tersebut membawa peserta mengunjungi berbagai objek, sekaligus berinteraksi dengan masyarakat pesisir dan mengenal budaya setempat.
Bagi Pemkab Sumbawa, kehadiran peserta pelayaran internasional menjadi kesempatan untuk memperkenalkan objek wisata daerah itu secara langsung kepada masyarakat dunia.
Karenanya, ajang itu dimanfaatkan sebagai kesempatan bagi pemerintah daerah untuk mengenalkan objek wisata yang kita miliki kepada dunia.
Pesan sederhana
Dari ajang itu, pemerintah daerah menyampaikan pesan sederhana kepada peserta, "Nikmati keindahan Sumbawa. Telusuri Sumbawa. Dan tolong, kabarkan pada dunia tentang Sumbawa."
Sail to Indonesia di Sumbawa, akhirnya bukan hanya tentang perjalanan kapal layar dari satu titik ke titik lain.
Di daerah ini, para yachter menemukan cerita melalui Karaci, Barapan Kebo, jejak sejarah, produk UMKM, hingga hiu paus di perairan Teluk Saleh.
Ketika kapal-kapal itu kembali berlayar, yang dibawa pulang bukan hanya foto dan catatan perjalanan, tetapi juga pengalaman tentang budaya, masyarakat, dan kekayaan bahari Sumbawa.
Baca juga: Menjaga harmonisasi hiu paus dan manusia di Teluk Saleh
Baca juga: Menyemai harapan pada pohon mangrove
Baca juga: Sumbawa, melting pot berlapis: istana yang cair, desa yang selektif
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Yachter asing menemukan cerita di Sumbawa
Editor:
Sugiharto Purnama
COPYRIGHT © ANTARA 2026