Nagoya, Jepang (ANTARA) - Doa Ni Made Puspawati tak pernah terputus saat sang putra bertarung di tengah gulungan ombak. Berdiri di bawah naungan payung, perempuan berusia 55 tahun itu terus merapal doa dengan mata yang tak sekejap pun lepas dari jersey merah I Made Pajar Ariyana.
Pada babak final nomor shortboard putra Asian Games 2026, Pajar bertarung sengit melawan wakil tuan rumah, Kanoa Igarashi. Ketika Kanoa mencetak skor lebih dulu, doa Puspawati tak surut. Sekitar 10 menit berselang, Pajar pun berhasil memecah kebuntuan dan mengamankan poin.
Bagi Puspawati, duel di lautan itu bukan sekadar tentang angka. Ada jejak perjalanan panjang yang terbayang di balik perjuangan anaknya. Perjalanan yang bermula dari Pulau Serangan, Denpasar.
Pajar sudah akrab dengan pantai sejak bayi. Keluarganya memiliki warung di Pulau Serangan. Karena harus berjualan, Puspawati membawa Pajar ke pantai.
“Dari umur satu bulan sudah di pantai,” kata Puspawati.
Pantai kemudian menjadi bagian dari kehidupan Pajar. Ketika berusia enam tahun, ia mulai belajar berselancar. Namun, saat itu ia bahkan belum bisa berenang. Rasa takut sempat lebih besar daripada keinginannya menaklukkan ombak.
Puspawati masih mengingat bagaimana anaknya menolak ketika diajari berenang.
Setahun kemudian, ketakutan itu benar-benar ia rasakan. Pajar pernah tergulung ombak besar dan panik karena belum bisa berenang. Pengalaman tersebut membuatnya trauma dan hampir berhenti berselancar.
Namun sang ayah terus mendorongnya untuk kembali ke laut.
"Never give up."
Kalimat itu kemudian menjadi pegangan Pajar hingga sekarang.
Ia kembali berselancar. Rasa takut perlahan berubah menjadi keberanian. Pada usia tujuh tahun, Pajar mulai mengikuti perlombaan.
Setahun kemudian, ia mendapat dukungan sponsor dan berhasil meraih juara ketiga. Memasuki usia delapan tahun, ia mulai menjalani kompetisi dengan lebih serius.
Bagi Puspawati, melihat anaknya bertanding tentu membuat khawatir. Apalagi Pajar masih sangat kecil ketika mulai masuk ke kompetisi. Namun, ia juga melihat keberanian yang berbeda dalam diri anak keduanya.
Pajar juga dikenal mandiri. Ia terbiasa bepergian tanpa selalu didampingi orang tua. Bahkan ketika harus mengikuti kompetisi di luar negeri, Pajar bisa berangkat sendiri.
Menariknya, surfing bukan cita-cita pertamanya. Ketika kecil, Pajar pernah ingin menjadi atlet sepak bola. Namun ayahnya menyarankan agar ia menekuni surfing karena sejak kecil sudah begitu dekat dengan pantai.
Pilihan itu akhirnya menjadi jalan hidupnya.
Medali jadi pijakan
Kini Pajar telah berusia 22 tahun. Dari seorang anak yang dulu takut masuk ke air, ia berkembang menjadi atlet yang mampu bersaing di panggung internasional.
Cerita Pajar di Tahara dimulai dengan berburu tiket Asian Games. Ia mencatatkan prestasi di tingkat dunia dengan meraih medali emas dalam kejuaraan Asian Surfing Championship 2024 di Thulusdhoo, Maladewa.
Setahun berselang, Pajar menyabet medali perak pada Asian Surfing Championships 2025 Tamilnadu, di India. Ia bersama tim nasional selancar ombak Indonesia juga berhasil meraih emas nomor beregu putra.
Pajar kemudian berhasil menjuarai Liga Surfing Dunia (World Surf League) Qualifying Series (QS) 2000 Manokwari Pro di Pantai Petrus Kafiar Amban, Manokwari, Papua Barat, pada November 2025.
Menghadapi Kanoa di final Asian Games 2026, Pajar tetap menghadirkan tekanan. Pajar mengaku sempat merasa gugup. Namun ia berusaha menjaga pikirannya agar tetap tenang.
Arahan dari pelatih menjadi salah satu bekal untuk mengendalikan tekanan. Pertandingan tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa persaingan tidak usai setelah laga berakhir. Pengalaman dan pembelajaran dari laga ini akan menjadi bekalnya menghadapi kompetisi mendatang.
Baca juga: Asian Games: Panjat tebing berpeluang tambah medali
Medali yang diraihnya di Jepang pun tidak dianggap sebagai akhir perjalanan. Justru menjadi modal untuk meningkatkan kepercayaan diri.
"Lebih ke membuat motivasi untuk next level. Buat diri sendiri lebih percaya diri," kata Pajar.
Ia mengaku belum puas. Di usia yang masih 22 tahun, ia merasa masih lapar dengan kemenangan.
"Masih lapar dengan kemenangan, tentunya belum puas."
Target berikutnya sudah mulai disusun. Pajar ingin mengikuti kualifikasi menuju Olimpiade. Ia juga ingin mengejar kesempatan tampil di World Surf League (WSL), mengikuti jejak seniornya, Rio Waida.
Pelatih kepala tim nasional surfing Indonesia, Arya Subyakto, menilai Pajar memiliki keunggulan saat menghadapi kondisi ombak kecil atau kurang ideal.
Baca juga: Asian Games: Bulu tangkis berpotensi tambah emas
"Pajar itu, terutama untuk ombak yang 'rusak' atau kecil, membuat kita merasa aman. Jadi, secara skill dia sangat oke," ujar Arya.
Kemampuan tersebut menjadi modal penting bagi Pajar untuk terus berkembang.
Terlebih agenda multievent menanti di depan, termasuk Asian Beach Games 2027, juga kualifikasi Olimpiade yang digelar oleh International Surfing Association (ISA) di Peru pada November.
Di balik perjalanan sang atlet, keluarga tetap menjadi bagian penting. Puspawati dan suaminya selalu mengikuti perkembangan Pajar, termasuk ketika ia harus bertanding jauh dari Indonesia.
Bagi Puspawati, mendukung Pajar berarti juga harus mampu menahan rasa khawatir. Kini, medali berada di tangan. Ketika ditanya tentang perasaannya melihat pencapaian anaknya, Puspawati menjawab singkat.
“Bangga sekali.”
Dari warung keluarga di Serangan, Pajar tumbuh bersama laut. Ia pernah takut, pernah trauma, bahkan hampir berhenti. Namun ia memilih kembali ke air dan terus belajar.
Kini, ombak bukan lagi sesuatu yang harus ditakuti. Ombak menjadi tempat Pajar mengejar mimpi. Medali di Jepang menjadi bukti dari perjalanan itu, sekaligus pijakan untuk tantangan berikutnya. Satu hal yang pasti, pesan sang ayah sejak ia kecil terus terpatri hingga kini: "Never give up."
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pajar Ariyana dan perjalanannya menaklukkan ombak
Pewarta : Arindra Meodia
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026