"Teori budaya kemiskinan Oscar Lewis mengatakan bahwa anak keluarga miskin cenderung ikut miskin. Makanya, itu harus diputus dengan dikasih wadah dan lingkungan baru di Sekolah Rakyat,"

Mataram (ANTARA) - Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Lombok Utara di Nusa Tenggara Barat (NTB) dirancang sebagai wadah pendidikan bagi anak keluarga miskin untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan dan pemenuhan kebutuhan dasar murid.

"Teori budaya kemiskinan Oscar Lewis mengatakan bahwa anak keluarga miskin cenderung ikut miskin. Makanya, itu harus diputus dengan dikasih wadah dan lingkungan baru di Sekolah Rakyat," kata Kepala Sentra Paramita Mataram Arif Rohman di Mataram, Rabu.

Arif mengatakan Sekolah Rakyat hanya diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin yang masuk ke dalam kelompok desil 1 dan desil 2.

Menurut dia, anak dari keluarga miskin memiliki risiko untuk tetap berada dalam kondisi miskin apabila tidak mendapatkan akses pendidikan dan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka.

Sekolah Rakyat memberikan lingkungan pendidikan baru yang dilengkapi dengan berbagai kebutuhan murid, mulai dari fasilitas belajar, makanan, perlengkapan sekolah, hingga asrama.

"Di Sekolah Rakyat, anak-anak yang masuk ke sana justru semakin dia miskin dan semakin mengenaskan kondisi keluarga, maka dia semakin rangking pertama," ucap Arif.

Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa Sekolah Rakyat dapat mengurangi beban pengeluaran keluarga miskin untuk pendidikan. Orang tua murid tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk kebutuhan membeli buku, transportasi, makan maupun kegiatan luar sekolah.

SRT Lombok Utara merupakan Sekolah Rakyat terbesar dan terintegrasi di Nusa Tenggara Barat. Sekolah itu dibangun di atas lahan seluas 6,7 hektare di Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan. Jumlah bangunan sebanyak 28 unit yang menghabiskan sekitar 2,8 hektare dari total lahan.

Proyek strategis nasional senilai Rp241 miliar dengan daya tampung 1.080 orang itu menyediakan asrama lengkap dengan lapangan basket dan mini soccer agar murid SD, SMP, hingga SMA tidak hanya mendapatkan pendidikan formal, tetapi juga pendidikan karakter dan kemandirian.

SRT Lombok Utara tahun ini menerima sekitar 600 murid baru. Sebanyak 275 murid berasal dari Lombok Utara, sedangkan sisanya berasal dari daerah lain di NTB melalui sistem perekrutan oleh sejumlah Sekolah Rakyat.

Arif menegaskan pelaksanaan pendidikan di SRT Lombok Utara disesuaikan dengan kesiapan fasilitas bangunan. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang sebelumnya dijadwalkan pada 31 Agustus harus ditunda karena pembangunan gedung belum sepenuhnya selesai.

Ia berharap pembangunan dapat rampung pada Oktober 2026 agar 600 murid dapat segera mengikuti MPLS. Penundaan itu dilakukan dengan mempertimbangkan keamanan dan keselamatan.

"Siswa sudah siap dan tidak ada kendala. Saat ini tinggal menunggu bangunan benar-benar selesai," pungkas Arif selaku PIC Sekolah Rakyat NTB.

Baca juga: Program Sekolah Rakyat hingga GSW dorong permintaan semen
Baca juga: Ministry forms team to speed up permanent Sekolah Rakyat buildings
Baca juga: Menghadap Wamensos, empat bupati siap bangun Sekolah Rakyat permanen

 



Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026