Pengadaan tambahan armada pengangkutan sampah sudah lama kami usulkan tapi terkendala anggaran.
Mataram (ANTARA) - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, segera mendapatkan tambahan armada baru pengangkut sampah untuk mengoptimalkan pelayanan kebersihan terutama jenis sampah basah dari sungai dan saluran.
"Pengadaan tambahan armada pengangkutan sampah sudah lama kami usulkan tapi terkendala anggaran. Alhamdulillah, sekarang bisa direalisasi dari insentif pemerintah pusat," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram Lale Widiahning di Mataram, Jumat.
Baca juga: DLH Mataram memastikan sampah terkendali meski ritase dikurangi
Hal tersebut disampaikan menyikapi adanya rencana penambahan armada baru senilai Rp1,4 miliar dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang nantinya diserahkan ke PUPR.
Anggaran itu bersumber dari insentif apresiasi pemerintah daerah berprestasi kategori pengolahan sampah dan lingkungan asri sebesar Rp2 miliar.
Dari Rp2 miliar tersebut, sebesar Rp1,4 miliar disalurkan untuk pengadaan dump truck bagi Dinas PUPR, mengingat armada dump truck milik Dinas PU yang sudah tua dan saat ini hanya menyisakan dua unit yang dapat beroperasi.
Sementara sisanya Rp600 juta, untuk penanganan dan pengolahan sampah organik di tingkat lingkungan melalui program "tempah dedoro".
"Dump truk yang akan diberikan itu sangat membantu kelancaran operasional pengangkutan sampah dan drainase di wilayah Kota Mataram," katanya.
Menurutnya, kondisi armada pengangkut sampah dan sedimen drainase di Dinas PUPR saat ini kian memprihatinkan. Dari tujuh unit armada yang dimiliki, sebagian besar merupakan pengadaan lama dan kerap mengalami kerusakan.
Armada tertua yang masih dioperasikan merupakan pengadaan tahun 2005, sementara unit terbaru dibeli pada tahun 2016.
"Dari tujuh unit yang ada, kondisi baknya sudah banyak ditambal sana-sini. Bahkan ada satu unit yang sudah rusak dan tidak bisa dipakai lagi," katanya.
Baca juga: Pemkot Mataram cari lokasi pengganti tempat penampungan sampah di Monjok
Kondisi armada yang terbatas dan tua itu dinilai jauh dari kata ideal untuk melayani wilayah operasional di Kota Mataram. "Idealnya kami membutuhkan setidaknya 12 unit armada," katanya.
Apalagi, selama musim kemarau muncul permasalahan tumpukan sampah yang mengepung aliran sungai dan saluran air sehingga kondisi sungai-sungai di Mataram saat ini sangat kotor akibat tingginya volume sampah lokal (bukan kiriman dari hulu).
"Ternyata potensi sampah lokal ini sangat tinggi dan terlihat jelas ketika air sungai sedang kering. Karena itu, kami rutin turunkan 350 petugas untuk melakukan pengangkatan sampah dari saluran dan sungai," katanya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas PUPR setiap hari mengerahkan kekuatan armada sebanyak 7 unit dump truk dan 350 orang petugas empat aliran sungai yakni Sungai Jangkuk, Ancar, Unus, dan Kali Ning. Belum lagi di saluran.
Dari 7 dump truk itu, setiap satu dump truk berkapasitas mengangkut sekitar 4 meter kubik sampah per satu ritase, dengan intensitas pengangkutan mencapai lebih dari 2 hingga 3 ritase per hari untuk dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat.
Meski volume sampah di aliran sungai melonjak drastis hingga diperkirakan mencapai 10 kali lipat dibanding kondisi biasa, upaya pembersihan terus dimaksimalkan dengan mempertimbangkan jam kerja petugas serta kapasitas armada yang ada.
"Petugas di lapangan bekerja secara bertahap setiap harinya mulai pukul 08.00 WITA hingga 16.00 WITA untuk memastikan seluruh saluran air dan sungai di Kota Mataram kembali bersih dan siap menghadapi perubahan musim," katanya.
Baca juga: DLH Mataram menggencarkan pengolahan sampah mandiri kurangi volume ke TPA
Pewarta : Nirkomala
Editor:
Sugiharto Purnama
COPYRIGHT © ANTARA 2026