"Semen menjadi salah satu barang penting yang harus kami pantau, baik dari stok maupun harga agar tetap stabil,"
Mataram (ANTARA) - Dinas Perdagangan Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, telah melakukan pemantauan, turun langsung, dan berkoordinasi dengan sejumlah distributor utama semen di wilayah Mataram, terkait kenaikan harga semen.
"Semen menjadi salah satu barang penting yang harus kami pantau, baik dari stok maupun harga agar tetap stabil," kata Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram Sri Wahyunida di Mataram, Jumat.
Hal tersebut disampaikan menyikapi keluhan masyarakat terkait kenaikan harga semen yang tinggi dari harga normal Rp60.000 per sak menjadi Rp80.000–Rp87.000 per sak. Selain itu, keberadaan komoditas bahan bangunan itu dinilai semakin langka di pasaran.
Menurut Sri, dari hasil koordinasi dengan sejumlah distributor utama semen di wilayah Mataram, seperti PT Saka Agung Abadi dan PT Gamana Makapala menyebutkan, kondisi itu terjadi karena ada kendala pengurangan pasokan dari pabrik.
"Yang biasanya satu distributor bisa menerima empat kapal dalam sebulan, kini hanya terkirim satu kapal," katanya.
Satu kapal pengangkut semen, katanya, biasanya memuat sekitar 7.600 ton atau setara dengan 150 ribu sak semen. Pengurangan armada pengangkut akibat kendala logistik dan operasional bahan bakar kapal pengangkut membuat stok semen di tingkat distributor menipis tajam.
"Dampaknya, kuota yang didistribusikan ke toko-toko bangunan juga menjadi sangat terbatas. Setiap toko hanya mendapatkan jatah sekitar 20 hingga 50 sak," katanya.
Meski harga di tingkat pengecer melambung tinggi akibat hukum pasar, Sri memastikan harga dari tingkat distributor tidak mengalami kenaikan atau tetap normal.
"Dari distributor harganya tetap normal, tidak ada kenaikan. Tapi di tingkat toko eceran harganya melonjak karena stok terbatas sementara permintaan tinggi. Masyarakat juga kami imbau tidak panik memborong," katanya.
Untuk mengatasi persoalan itu, Disdag terus memperketat pengawasan di lapangan dan berencana membawa hasil temuan ini ke tingkat Pemerintah Provinsi NTB.
"Pekan depan kami koordinasi dengan Dinas Perdagangan Provinsi NTB, agar dapat menindaklanjuti kendala pasokan ke pemerintah pusat," katanya menutup.
Pewarta : Nirkomala
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026