Memaknai hakikat hidup melalui Hikayat Suluk

id Hikayat Suluk,Musium Negeri,NTB

Hikayat Suluk bertema Shaum di Museum, "Quran, Pendidikan dan Kebangkitan" di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, Mataram, Kamis (23/5) malam. (Riza Fahriza)

Mataram (ANTARA) - Seluruh perjalanan hidup kita dikaji, berjalan...berjalan diperintahkan. Perjalanan inilah yang diamanatkan kepada kita untuk mengetahui yang telah terjadi sebelumnya. Berjalan bukan semata-mata fisik tapi secara intelektual.

Rangkaian kalimat itu memiliki pemaknaan yang cukup mendalam untuk mengkaji ---ngaji-- diri. Bahkan siapa kita, berasal dari mana kita, semuanya sudah ada yang mengaturnya seperti wayang. Hal itu menjadi bagian dalam acara Hikayat Suluk dengan tema "Shaum di Museum, Qur'an, Pendidikan dan Kebangkitan" di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, Kamis (23/5) malam.

Sungguh memiliki pemaknaan tasawuf yang memerlukan akal jernih untuk mengartikan setiap penggal kalimat dari puisi, narasi bersama ayat-ayat Al Quran dan alunan musik menjadi satu kesatuan. Setidaknya pesan yang disampaikan dalam Hikayat Suluk itu akan terekam di dalam memori penonton dan ditetapkan dalam sehari-hari. Yakni, mengkaji dan mengkaji arti hidup ini.

"Hikayat Suluk kali ini, dikemas sebagai sebuah cermin untuk merefleksikan jejak-jejak kearifan melalui untaian mutiara hikmah leluhur. Mutiara hikmah yang saat ini telah tertimbun kerlap-kerlip kristal yang menjadi simbol modernitas. Malam ini, kita akan tapaki sisa-sisa jejak kearifan," kata sutradara dan pengulas Hikayat Suluk, Lalu Agus Fathurrahman.

Sekali lagi memang butuh pencernaan yang kuat dalam menggunakan akal di dalam mengikuti setiap kalimat dalam Hikayat Suluk. Setidaknya bisa memberikan penyeimbang hidup di tengah-tengah budaya hedonisme yang semakin melekat di kehidupan sehari-hari.

Al Quran: Firman Allah SWT sumber energi dan inspirasi orang beriman. Membuat kehidupan tidak akan pernah ketinggalan zaman, tak akan pernah kalah menghadapi dunia dan tak akan pernah sedih menghadapi kisah apapun yang dijalani. Karena Al Quran adalah panduan, penjelas, pembeda, dan juga obat bagi yang percaya.

"Maka tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan keindahannya selain kalimat Alhamdulillahirabbil alamin," katanya.

Hikayat Suluk juga menyebutkan bagaimana perjalanan kematian, bagaimana hidup sesaat seperti pagelaran wayang hanya kelir wayang. Artinya adalah nasib tergantung dalang Allah SWT, kapan bisa muncul dan tenggelam.

Lalu Agus FN menyebutkan Hikayat Suluk artinya Cerita Perjalanan. Bagaimana untuk mengajak penonton untuk mengikuti perjalanan tasawuf. "Kemudian hasil perjalanan diabstraksi dalam karya," katanya.

Setidaknya melalui musik sastra, pesan renungan itu bisa sampai kepada audiensi, tandasnya.

Sementara itu, Kepala Museum Negeri NTB, M Zubair Muslim menyebutkan Museum Negeri NTB yang mengelola warisan budaya tidak hanya bertugas menyimpan dan merawat benda-benda kuno, tetap juga menjadikan benda-benda tersebut dapat berbicara, menceritakan keberadaannya dalam sejarah peradaban masyarakatnya dari zaman ke zaman.

"Bahasa dan pola komunikasi yang digunakan juga harus lebih kreatif untuk mempercepat sampainya pesan kearifan dari para pendahulu kita," katanya.

"Malam ini salah satu kelompok masyarakat pecinta museum hadir membahasakan koleksi warisan dan khazanah kearifan budaya NTB dengan bahasa seni dan dakwah," katanya.

Karena ini mari kita menggali kembali makna hidup, agar kita tidak tergelincir dalam keriuhan kelap kelip modernitas yang bisa menyandung dalam perjalanan kita ke akhirat mendatang.
Wassalam


 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar