Bentrokan dua kelompok perguruan silat di NTT satu tewas

id bentrokan di ntt

AKSI SOLIDARITAS BIMA MAKASSAR, SULSEL - Sejumlah pengunjukrasa yang tergabung dalam Front Rakyat Menggugat (Forgat), melakukan aksi teatrikal saat berunjukrasa di Tol Reformasi Makassar, Sulsel, Senin (26/12). Mereka melakukan pengrusakan sejumlah pos polisi sebagai bentuk protes atas bentrokan di Bima, NTT, dan meminta agar pemerintah mengusut tuntas kasus bentrokan antara warga dan polisi di Bima, NTT, pada Sabtu (24/12) 2011 yang menewaskan sejumlah warga Bima. FOTO ANTARA/Yusran Uccang/11

Mataram (ANTARA) - Dua kelompok perguruan silat Kera Sakti dan Setia Hati Terate (SHT) di Kelurahan Naibonat, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur bentrok, Kamis  menyebabkan satu korban meninggal dunia dan empat korban luka-luka terkena anak panah.

Kasat Reskrim Polres Kupang, Iptu Ebed Amalo yang dihubungi Kamis, membenarkan terjadinya peristiwa bentrokan antar dua perguruan persilatan yang menyebab satu korban meninggal atas nama Ramos Horta Sores (19) warga RT 22/RW 09. Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur.

"Dalam bentrokan dua kelompok ini menyebabkan satu korban meninggal sedangkan empat korban lainnya mengalami luka-luka," kata Ebed Amalo.

Ia mengatakan, korban tewas yang diduga akibat tikaman benda tajam itu diduga merupakan anggota perguruan SHT sedangkan empat korban luka merupakan anggota perguruan silat Kera Sakti.

Menurut dia, korban tewas dalam bentrokan itu telah dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Naibonat.

Sedangkan empat korban yang mengalami luka-luka masih dalam penanganan petugas medis pada RSUD Naibonat yang berada tidak jauh dari lokasi bentrokan kedua perguruan silat berlangsung.

Ebed mengatakan situasi keamanan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) di kawasan depan Kantor Bupati Kupang hingga lapangan Transad Naibonat sudah dalam situasi yang kondusif.

Ia mengatakan, aparat Kepolisian Resort Kupang masih mendalami penyebab terjadinya bentrokan dua kelompok yang menyebabkan satu korban tewas itu.

"Kami masih mendalami penyebab terjadinya kerusuhan ini," tegas Ebed.
Pewarta :
Editor: Ihsan Priadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar