Dinkes Mataram memvalidasi kasus balita pendek

id stunting,mataram, dikes

Dinkes Mataram memvalidasi kasus balita pendek

Petugas kesehatan di Kabupaten Lombok Barat mengukur tinggi anak balita. (Foto ANTARA NTB/ist) (1)

Mataram (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, melakukan pendataan terhadap kasus balita pendek atau "stunting" karena berdasarkan hasil survei nasional tahun 2018 mencapai 37 persen.

"Kita ingin melihat angka riil terhadap data hasil survei nasional yang menyebutkan jumlah balita pendek di Mataram sebesar 37 persen," kata Kepala Dinas Kesehatan  Kota Mataram dr H Usman Hadi di Mataram, Kamis.

Penyebab balita dengan tubuh pendek ini dipicu banyak faktor antara lain genetik, sosial ekonomi, lingkungan, dan kekurangan gizi sejak 10 hari kehidupan dalam kandungan sehingga terjadi tidak seimbangnya berat badan dengan tinggi badan.

Karenanya, dalam proses pendatana kasus "stunting" di Mataram, Dinkes Kota Mataram memanfaatkan kegiatan pekan penimbangan yang dilaksanakan sebanyak empat kali setahun yakni pada bulan Januari, Mei, Agusrus dan November.

Selain itu, kegiatan posyandu juga dioptimalkan untuk melakukan pemantauan berat dan tinggi badan balita. Dengan demikian, apabila ada balita yang terindikasi mengarah ke status "stunting", petugas bisa melakukan penanganan secara maksimal.

"Data yang riil, bisa mempermudah kita melakukan langkah-langkah antisipasi dan penanganan," katanya.

Dikatakan, beberapa penanganan yang sudah dilakukan selama ini antara lain dengan pemberian makanan untuk bayi dan balita, dan memberikan edukasi kepada orang tua bagaimana mengolah makanan yang bergizi dan berimbang untuk bayi dan balita dengan memanfaatkan bahan lokal.

"Jadi, orang tua tidak perlu membeli makanan mahal atau mencari bahan makanan dari luar rumah. Cukup dengan memanfaatkan bahan yang sudah ada di rumah," katanya.

Selain itu, Dinas Kesehatan telah memberikan pelatihan kepada para kader posyandu dan mengarahkan kepada para kader agar lebih aktif lagi melakukan edukasi kepada ibu hamil dan ibu menyusui.

Tujuannya, agar selama masa kehamilan ibu aktif memeriksakan diri serta mengkonsumsi makanan bergizi dan berimbang agar anak dalam kandungan mendapatkan asupan gizi yang baik dan cukup. Begitu juga dengan ibu menyusui.

"Apalagi untuk pelayanan ibu hamil di Puskesmas sudah kita siapkan, termasuk makanan tambahan dan susu. Jadi ibu hamil tidak perlu beli susu karena telah disiapkan pemerintah," katanya.

Usman menargetkan, dengan upaya menggencarkan edukasi kepada ibu hamil, diharapkan angka kasus stunting setiap tahun dapat terus ditekan hingga pada angka nol.

"Target kami pastinya nol kasus stunting, karena kasus stunting dan kurang gizi bisa mengancam generasi mendatang," ujarnya.
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar