Mataram, 23/11 (ANTARA) - Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) H. Abdul Samad mengatakan kebutuhan hewan kurban di wilayah NTB tahun ini diperkirakan meningkat cukup signifikan. 
"Berdasarkan laporan dari berbagai kabupaten/kota dan hasil pantauan petugas lapangan, ada kecenderungan peningkatan permintaan hewan kurban jika dibandingkan tahun sebelumnya," kata Samad di Mataram, Senin.

   Ia mengatakan jumlah hewan kurban yang disembelih pada 2008 atau saat Hari Raya Idul Adha 1429 Hijriyah tercatat  1.791 ekor sapi, 202 ekor kerbau dan 9.244 ekor kambing.

   Pihaknya memperkirakan kebutuhan hewan kurban pada 2009 atau saat Hari Raya Idul Adha 1430 Hijriyah sebanyak 13 ribu ekor kambing dan empat ribu ekor sapi dan kerbau.

   "Menurut laporan dari petugas lapangan, ketersediaan hewan kurban tidak menjadi masalah karena jumlahnya cukup banyak," ujarnya.

   Menurut Samad tempat penjualan hewan kurban terkonsentrasi di 22 titik, terbanyak di Kota Mataram, ibu kota Provinsi NTB.

   "Sementara tempat pemotongan hewan kurban menyebar 132 lokasi yang umumnya merupakan kompleks masjid dan mushala," katanya.

   Menurut dia lokasi penjualan dan pemotongan hewan kurban juga dipantau intensif terutama yang berkaitan dengan kondisi kesehatan hewan.

   Samad mengatakan pengawasan hewan kurban di pintu-pintu masuk Pulau Lombok, termasuk  di pintu masuk dari Pulau Sumbawa diperketat agar hewan kurban yang akan disembelih dipastikan bebas dari berbagai jenis penyakit.

   "Bukan rahasia lagi hingga kini wilayah NTB belum bebas dari penyakit antraks dan ngorok sehingga pengawasan ketat mutlak diperlukan," katanya.

   Menurut Samad kasus terakhir penyakit antraks yang menyerang ternak sapi dan kerbau di wilayah NTB terjadi pada  1984, dan saat ini belum bisa dikatakan NTB bebas dari penyakit itu.

   "Bakteri 'bacillus anthracis' dapat bertahan hidup 25-100 tahun sehingga upaya pencegahan dan pemusnahan penyakit hewan yang dapat menular ke manusia dan bersifat akut itu harus terus digalakkan," katanya.

   Selain itu, NTB juga belum bebas dari penyakit hewan lainnya seperti ngorok atau "septichaemia epizooticae" (SE) yang sering melanda ternak besar.

   "Sama dengan antraks, kasus terakhir penyakit SE pada sapi dan kerbau di wilayah NTB tjuga terjadi pada 1984 namun belum bisa dikatakan saat ini NTB terbebas dari kedua penyakit itu," ujarnya.

   Samad menambahkan setiap ternak di NTB yang akan disembelih untuk kepentingan hewan kurban harus melewati serangkaian pemeriksaan karantina dan legalitas dari pihak berwenang.


   Penyakit menular 
Penyakit antraks termasuk kelompok penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis). Penyakit itu paling sering menyerang ternak "herbivora" terutama sapi, domba, kambing dan selalu berakhir pada kematian.
  Penyebab antraks adalah bakteri "bacillus anthracis" dan di alam bebas bakteri ini membentuk spora yang tahan puluhan tahun dalam tanah serta dapat menjadi sumber penularan pada hewan dan manusia.  
Hewan yang mati akibat antraks harus langsung dikubur atau dibakar, tidak boleh dilukai agar bakteri tidak menyebar.

   Sementara penyakit ngorok juga sangat berbahaya bagi hewan, namun tidak menular secara langsung kepada manusia dan dagingnya bisa dikonsumsi kecuali bagian leher dan kepala serta organ dalam.

   Penyakit SE menimbulkan risiko kematian yang tinggi pada hewan karena penularan penyakit ini lebih condong hanya kepada sesama hewan. Penyakit tersebut disebabkan sejenis bakteri yang disebut "pasteurella multocida".

   Penularan dari satu ternak ke ternak lain melalui kontak langsung, makanan, minuman, dan alat-alat yang tercemar bakteri tersebut.

   Gejalanya antara lain ternak yang terserang mengalami demam tinggi, lesu, gemetar, dan mengalami gangguan pencernaan.(*)




Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026