Mataram, 9/12 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2010, akan mengembangkan Pusat Informasi Konseling Keluarga (PIKKA) Asyakinah menjadi klinik Keluarga Berencana (KB) bagi keluarga miskin sebagai upaya meningkatkan jumlah akseptor.

   "Sekarang ini sedang kita persiapkan prasarana penunjang baik itu alat kontrasepsi dan tenaga para medis seperti dokter dan bidan yang akan menangani warga miskin yang ingin menjadi akseptor," kata Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPP dan KB) NTB, Hj. Ratningdiah, di Mataram, Rabu.

   Ia mengatakan, warga yang ingin menjadi akseptor KB melalui klinik KB yang ada di PIKKA Asyakinah diberikan pelayanan dan berbagai alat kontrasepsi secara gratis seperti IUD, suntikan dan susuk, serta kondom sesuai dengan kebutuhan calon akseptor.

   Dalam upaya menyosialisasikan keberadaan PIKKA Asyakinah sebagai klinik KB, lanjut dia, pihaknya bekerja sama dengan BPP dan KB di tingkat kabupaten/kota untuk memberikan informasi tentang layanan KB gratis tersebut kepada warganya melalui penyuluh KB yang ada di tiap desa.

   "Jadi nanti warga yang ingin menjadi akseptor bisa datang ke klinik ini dengan difasilitasi oleh BPP dan KB kabupaten/kota, sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi," ujarnya.

  Dia mengatakan, jumlah peserta KB pada 2008 tercatat 145.017 akseptor atau 97,2 persen dari rencana. Sementara jumlah peserta KB aktif hingga kini tercatat sekitar 54 persen dari jumlah pasangan usia subur (PUS) sebanyak 900.000 orang.

   Kemudian jumlah keluarga balita aktif BKB sebanyak 23.283 keluarga, remaja aktif BKR tercatat 5.817 keluarga, lansia aktif BKL 6.092 keluarga, dan anggota UPPKS tercatat 19.369 keluarga.

   "Angka akseptor KB akan terus kita tingkatkan dengan cara memberikan kemudahan bagi warga miskin untuk menjadi akseptor dan upaya sosialisasi dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat untuk ikut menyosialisasikan gerakan KB kepada masyarakat," ujarnya.

Ratningdiah juga berharap dengan memanfaatkan PIKKA Asyakinah sebagai klinik KB, warga juga bisa langsung berkonsultasi tentang manfaat ber KB serta bagaimana membina hubungan rumah tangga yang harmonis.

Dalam mengkonsultasikan permasalahan kehidupan rumah tangga, PIKKA Asyakinah telah menyediakan beberapa konselor seperti koselor agama, psikolog dan konselor kesehatan tanpa harus mengeluarkan biaya apapun.

"Tentunya kita juga akan merahasiakan masalah-masalah yang mereka hadapi karena itu adalah sifatnya pribadi. Konselor juga sudah punya kode etik tentang kerahasiaan masalah yang dihadapi oleh kliennya," katanya. (*)





Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026