Tembang pop Sunda di "Sunda Kecil"

id Antaranews NTB,Seni Degung

Atraksi seni tradisional Sunda, Degung, yang mengiringi lagu Bubuy Bulan dan Mojang Priangan, mewarnai acaraPentas Kebangsaan Merajut Persatuan Dalam Keragaman pada Jumat (23/8) malam di Teater Terbuka Taman Budaya NTB, Mataram. (Antara/Hani Handayani)

Mataram (ANTARA) - Bisa dikatakan tembang pop Sunda, "Bubuy Bulan" dan "Mojang Priangan", telah membayar lunas rasa rindu akan Tatar Sunda yang berjarak ribuan kilometer dari Pulau Lombok, oleh etnis Sunda di daerah tersebut.

Pulau Lombok yang dahulunya dikenal dengan Provinsi Sunda Kecil terdiri atas Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, menjadi saksi bagaimana etnis Sunda selalu mengedepankan falsafah "dimana bumi dipijak di sanalah langit dijunjung".

Hal itu terekam dalam atraksi masyarakat Sunda yang ada di Lombok di bawah payung Paguyuban Pasundan NTB dalam acara Pentas Kebangsaan Merajut Persatuan Dalam Keragaman pada Jumat (23/8) malam di Teater Terbuka Taman Budaya NTB, Mataram.

Dua tembang itu dimainkan secara sempurna dengan diiringi seni tradisional Sunda, Degung yang dua personel diantaranya Warga Negara Belanda. Uniknya, saat lagu Bubuy Bulan dinyanyikan penonton tidak ragu-ragu untuk ikut menari.

Kesenian khas Sunda itu, tampil bersama kesenian sejumlah etnis yang ada di NTB, antara lain, etnis Tionghoa dengan Barongsay, etnis Bali, Sumbawa, dan Sasak.

"Menariknya dua pemain gamelan dalam seni degung itu, orang Belanda," kata Ketua Pengurus Wilayah Paguyuban Pasundan NTB, Dikdik Kusnandika.

Terus terang, kata dia Paguyuban Sunda merasa bahagia diundang untuk turut berpartisipasi dalam ajang tersebut. "Keberadaan kami di NTB diakui, hingga kami memberikan apresiasi atas undangan ini," ujarnya.

Ia menyebutkan etnis Sunda yang ada di Mataram pernah terdata sampai berjumlah 12 ribu orang dengan berbagai macam profesi dari seniman sampai Aparatur Sipil Negara (ASN).

Warga keturunan Sunda itu berbaur dengan warga yang tinggal di Pulau Lombok dengan semangat bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kami selalu mengedepankan falsafah dimana bumi dipijak di situlah langit dijunjung, lanjutnya.

Bahkan saat gempa setahun lalu, menurut dia Paguyuban Sunda menyumbang untuk korban gempa mencapai Rp600 juta.

Paguyuban Pasundan NTB sendiri memiliki pembina, yakni Hj Baiq Isvie Rupaeda SH MH yang juga menjabat Ketua DPRD NTB.
 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar