Pengamat: peningkatan ekspor pertanian jadi kabar buruk mafia pangan

id HS Dillon

HS Dillon (FOTO ANTARA/Jafkhairi) (Istimewa)

Mataram (ANTARA) - Meningkatnya angka ekspor pertanian akan menjadi kabar buruk sekaligus hal yang tidak diinginkan oleh lingkaran mafia pangan.

Pasalnya, impor pangan yang terjadi di Indonesia masih dirasakan menyentuh akibat dari ulah lingkaran mafia pangan.

"Suka atau tidak, diakui atau tidak, tapi kenyataan di lapangan begitu banyak terjadi. Impor gara-gara mafia pangan terlalu menggurita di sini (Indonesia)," kata pemerhati pertanian HS Dillon, Rabu (21/8).

Itulah sebabnya dengan angka ekspor pertanian yang menanjak, membuat bisnis lingkaran mafia pangan terputus sebab dikalahkan kebijakan pro-petani.

"Para mafia pangan jadi kehilangan pekerjaannya. Pangan betul-betul untuk kepentingan rakyat dan ekonomi negara. Rasanya, mafia pangan tidak pernah ingin ini terjadi," ujar Dilon.

Dilon mengemukakan, guna terus meningkatkan ekspor, maka syarat utama dibutuhkan adalah kebijakan politik yang pro-petani Indonesia.

Berdasarkan data tahun 2013, jumlah ekspor pertanian adalah sebesar 33,5 juta ton. Kemudian pada tahun 2016 mengalami dua kali kenaikan mencapai 36,1 juta ton dan 40,4 juta ton.

Begitu juga tahun 2017, ekspor produk pertanian bertambah lagi jumlahnya yakni 41,3 juta ton. Di tahun 2018, ekspor produk pertanian mampu mengukuhkan jumlah sebesar 42,5 juta ton.

Selama peridoe 2014-2018, jumlah seluruh nilai ekspor produk pertanian Indonesia berhasil mencapai Rp1.957,5 tirliun dengan akumulasi tambahan Rp352,58 triliun. 

 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar