Geng narkoba di Guatemala bunuh tiga tentara

id Presiden Guatemala Jimmy Morales

Geng narkoba di Guatemala bunuh tiga tentara

Warga membawa poster dengan foto mirip Presiden Guatemala Jimmy Morales saat unjuk rasa atas kebijakan imigrasi pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Guatemala City, Guatemala, Sabtu (27/7/2019). Tulisan di poster terbaca "Traitor (pengkhianat)".REUTERS/Luis Vargas/aww/cfo (REUTERS/STRINGER)

Mataram (ANTARA) -  Pemerintah Guatemala menyatakan keadaan darurat di lima provinsi timur laut dalam upaya meraih kembali kendali setelah tiga tentara dibunuh oleh tersangka geng perdagangan narkoba, kata pihak berwenang.

Pihak berwenang akan mengirim lebih banyak personel militer dan polisi ke provinsi Alta Verapaz, El Progreso, Izabal, Peten dan Zacapa, jalur perdagangan narkoba yang membentang dari Honduras ke perbatasan Meksiko.

Dalam status darurat itu, jam malam akan diberlakukan, demonstrasi dilarang dan angkatan bersenjata diberi kemudahan untuk menahan orang. Keputusan tersebut harus mendapat persetujuan Kongres.

"Kelompok-kelompok penjahat ini beroperasi di seluruh wilayah itu," kata Presiden Guatemala Jimmy Morales dalam konferensi pers.

Angkatan DaratGuatemala mengatakan sekelompok tersangka penyelundup narkoba pada Selasa (4/9) "menyergap" patroli sembilan tentara, yang ditugaskan untuk menahan sebuah pesawat yang diduga mengangkut narkoba.

Guatemala, seperti tetangganya El Salvador dan Honduras, adalah rute transit untuk sebagian besar kokaina yang mengalir ke Amerika Serikat.

Para kandidat yang mencalonkan diri untuk jabatan publik dalam pemilihan baru-baru ini dituduh memiliki hubungan dengan dunia perdagangan narkoba.
Pewarta :
Editor: Ihsan Priadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar