Tentara India dan sipil Pakistan tewas saat bentrok Kashmir

id Kashmir,India Pakistan, India,Pakistan

Tentara India dan sipil Pakistan tewas saat bentrok Kashmir

Seorang perempuan Kashmir berdiri di samping sebuah grafiti tertulis di tembok saat pembatasan menyusul dicabutnya status konstitusional khusus Kashmir oleh pemerintah India, di Srinagar, Minggu (15/9/2019). (REUTERS/FRANCIS MASCARENHAS)

Srinagar, India (ANTARA) - India dan Pakistan saling menyalahkan soal jatuhnya korban tewas dan terluka dari kalangan tentara dan warga sipil kedua belah pihak akibat baku tembak di perbatasan Kashmir pada Sabtu (20/10) malam.

Pemerintah India menyebut bahwa penembakan oleh pihak Pakistan di area perbatasan sebelah utara Kashmir, Tangdhar itu menewaskan dua orang tentara dan seorang warga sipil India.

Menurut juru bicara pertahanan India, Kolonel Rajesh Kalia, telah terjadi sebuah pelanggaran gencatan senjata yang tidak beralasan oleh Pakistan.

"Prajurit kami membalas dengan kuat sehingga menimbulkan kerusakan berat serta korban jiwa di pihak musuh," ujar Rajesh.

Seorang sumber dari tentara India menyebut bahwa penembakan itu dilakukan untuk melindungi para pejuang memasuki India karena adanya "peningkatan pengecekan di area perbatasan."

Tentara India "mempertahankan hak untuk membalas pada waktu dan tempat yang dipilih" jika tentara Pakistan terus melakukan hal itu, menurut sumber tersebut.

Sementara pemerintah Pakistan menyatakan seorang tentara dan tiga orang sipil tewas usai India melanggar gencatan senjata, kata juru bicara tentara Pakistan, Mayor Jenderal Asif Ghafoor.

Asif mengklaim bahwa pelanggaran dengan penyerangan oleh India itu tanpa alasan apapun dan secara sengaja menyasar warga sipil.

Menurut dia, Pakistan telah merespon secara efektif sehingga menewaskan sembilan orang tentara India dan melukai beberapa lainnya serta menghancurkan dua bungker.

"Tentara India memang seharusnya mendapatkan balasan yang layak," kata Asif.

Pasukan India di Kashmir telah "membabi buta" sehingga menyebabkan enam warga sipil tewas dan delapan lainnya terluka, menurut Perdana Menteri Pakistan untuk wilayah Azad Jammu dan Kashmir, Raja Farooq Haider.

"Ini adalah kebiadaban. Dunia tidak boleh tinggal diam atas hal ini," tulis dia dalam sebuah cuitan Twitter diakhiri dengan #KashmirNeedsAttention (#KashmirButuhPerhatian).

Wilayah Kashmir telah menjadi persengketaan India dan Pakistan sejak keduanya merdeka pada tahun 1947, dan mereka telah melakukan dua dari tiga perang yang terjadi di wilayah itu.

Ketegangan antara kedua negara berkobar dan penembakan beberapa kali terjadi di perbatasan sejak 5 Agustus lalu ketika pemerintah India menyiagakan prajurit untuk memadamkan kerusuhan usai India mencabut status otonomi khusus di Kashmir.

Pakistan sendiri telah memperingkatkan bahwa perubahan status Kashmir akan meningkatkan ketegangan namun India menyebut hal itu adalah urusan dalam negeri dan bertujuan untuk mempercepat pengembangan ekonomi wilayah tersebut.

Sumber: Reuters
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar