DAENG KUMA , "PROFESOR UDANG" DARI SUMBAWA Oleh Masnun

id

     Malam itu seperti biasa Daeng Kuma (70), duduk di tepi tambaknya. Sesekali ia menabur pelet (pakan udang) di tambak udang yang tinggal menunggu waktu panen sambil bercerita tentang perjuangannya mengembangkan usaha budidaya tambak udang sejak tujuh tahun lalu.
  {jpg*2}
     Pria gaek yang bernama lengkap H Daeng Kumaidi asal Desa Labuan Sangor, Kecamatan Maronge, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu adalah seorang penambak lolak yang cukup berhasil mengembangkan usaha tambak udang bersama tujuh anak dan menantunya.
     Di tengaH persaingan ketat dengan pengusaha keturunan bermodal besar yang akhir-akhir ini berlomBa-lomba membuka usaha tambak udang secara besar-besaran di Sumbawa, petani tambak udang keturunan Bugis ini mampu bertahan hidup, kendati masih mengelola tambak tradisional dan semi intensif.
     "Untuk bisa tetap bertahan di tengah persaingan ketat dengan pengusaha besar memerlukan perjuangan cukup berat, karena mereka memiliki modal besar dan menguasai pasar. Selain itu kita harus kreatif serta tidak cepat putus asa," kata kakek dari belasan cucu ini.
     Daeng Kuma mengawali usahanya dengan membuka satu petak tambak ikan bandeng beberapa tahun lalu dan sebagian lahan yang dimilikinya ditanami pohon kelapa, namun usaha tersebut kurang menguntungkan terutama karena hanya mengisi permintaan pasar lokal yang jumlahnya relatif sedikit.  
     Karena itu ia mencoba membuka tambak udang dan saat itu yang dibudidayakan adalah jenis udang windu. Selama beberapa kali panen dia sempat menikmati keuntungan cukup besar, namun itu tidak bertahan lama akibat serangan penyakit udang pada setiap panen.
    Bagi Daeng Kuma kegagalan adalah keberhasilan yang terTunda, karena itu ia kembali mengembangkan usaha budidaya tambak udang dan saat itu yang dipilih adalah jenis udang vaname (Litopenaues vannamei) karena memiliki banyak kelebihan mengingat jenis udang ini resisten terhadap penyakit dan kualitas lingkungan yang rendah serta padat tebar cukup tinggi.
    "Jenis udang vaname cocok dengan kondisi tambak, sehingga sejak beberapa tahun ini produksi cukup banyak kendati kadang-kadang keuntungan yang diperoleh relatif kecil terutama sejak naiknya harga pakan dan bahan bakar minyak (BBM) menyusul pencabutan subsidi oleh pemerintah," katanya.
{jpg*3} 
     Kini Daeng Kuma yang mengelola usaha tambak dengan anak dan menantunya cukup berhasil mengembangkan usahanya. Ia bisa mengganti mesin diesel untuk pompa penyedot air laut dan mesin diesel untuk penggerak kincir serta membuka beberapa petak tambak baru.
    Keberhasilan Daeng Kuma dalam usaha budidaya tambak udang agaknya tidak terlepas dari kerja keras terutama dalam mencari cara yang tepat untuk mencegah serangan berbagai jenis penyakit udang dengan menggunakan bahan yang mudah diperoleh di sekitar lokasi tambak tersebut.
     
    Daun imba
    Untuk mencegah penularan jenis penyakit akibat virus Myo dan bintik putih, misalnya, ia menggunakan daun imba yang dimasak kemudian airnya dicampur dengan pakan. Ramuan ini berfungsi sebagai pengganti antibiotik untuk pembunuh bakteri pada udang, sekaligus menambah nafsu makan udang.
    "Penggunaan daun imba sebagai pengganti antibiotik itu agar produksi yang dihasilkan bebas residu bahan kimia dan tidak perlu mengeluarkan biaya mengingat daun imba banyak terdapat di kawasan tambak di Desa Labuan Sangor," katanya.
     Daeng Kuma berani menjamin udang yang dihasilkannya bebas dari residu antibiotik karena menggunakan bahan alami, yakni daun imba atau mimba yang dalam bahasa latin disebut "azadirachta indica juss".
     Ia bersama anak dan menantunya yang mengelola sekitar 30 ha tambak udang membuat antibiotik menggunakan daun imba dengan cara merebus daun yang rasanya pahit itu dicampur pakan udang, selanjutnya dijemur dan setelah kering baru ditaburkan di tambak.
     Daeng Kuma mengaku menemukan obat alami sebagai pengganti antibiotik tersebut berdasarkan pengalaman bahwa air daun tanaman ini juga dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit pada manusia seperti penyakit kulit, antiinflamasi, demam, antibakteri, antidiabetes, dan penyakit kardiovaskular.
      "Sebagian masyarakat menggunakan daun imba untuk obat tradisional, karena itu saya mencoba pada udang dan ternyata memang terbukti udang tidak terlalu banyak yang mati," katanya.
{jpg*4}  
     Setelah menggunakan daun imba selain tidak banyak mati, nafsu makan udang juga semakin meningkat, sehingga peliharaannya cepat besar dan masa pemeliharaan bisa lebih singkat serta kualitas udang yang dihasilkan juga tinggi.
      Keberhasilan Daeng Kuma menggunakan daun imba menggantikan antibiotik yang mengandung bahan kimia tersebut kini ditiru oleh penambak lokal lainnya, karena jenis obat alami ini cukup berhasil mencegah serangan penyakit udang.
      "Selama ini saya tidak pernah menggunakan antibiotik yang mengandung bahan kimia. Kami selalu menggunakan daun imba untuk mengobati penyakit udang. Jangankan memakai antibiotik melihatnya saja saya tidak pernah," kata penambak lokal yang tidak pernah mengenyam pendidikan itu.    
    Selain itu, Daeng Kuma juga berhasil menemukan berbagai teknik pengelolaan tambak udang, seperti menggunakan pasir yang dicampur dengan kapur untuk mengurangi pengaruh limbah pakan pada tambak udang.
 {jpg*5}
     "Untuk meminimalisir dampak limbah pakan di tambak udang kami menggunakan pasir yang dicampur dengan kapur, ini dimaksudkan untuk mengurangi naiknya lumpur yang bercampur sisa pakan ke atas yang mengakibatkan kondisi air tambak dari pencemaran," ujarnya.
     Selain itu, menurut Daeng Kuma, untuk mempercepat 'molting' (proses penggantian kulit pada udang) penggantian air tambak juga harus sering dilakukan, agar kualitas air tetap baik, sehingga mempercepat pertumbuhan udang.
    Berkat berbagai temuannya itu, Daeng Kuma yang tidak pernah mengenyam pendidikan ini oleh para penambak di desanya dijuluki "Profesor Udang". (*)

KETERANGAN FOTO:

1. Seorang pekerja tambak milik Abdul Hakim (menantu  H. Daeng Kumaidi) di Desa Labuan Sangir, Kecamatan Maronge, Kabupaten Sumbawa sedang memberikan pakan (pelet)

2.Sejumlah pekerja sedang menyortir udang yang akan diekspor ke berbagai negara melalui Banyuwangi, Jawa Timur.

3. Pemilik tabak di Desa Labuan Sangir sedang menimbang udang untuk menetapkan size atau ukuran udang yang sekaligus untuk penentuan harga udang.

4. Pekerja tambak sedang memanen udang di tambak milik H. Daeng Kumaidi di Desa Labuan Sangir, Kecamatan Maronge, Kabupaten Sumbawa.  


Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar