Pakar bantah isu patahan sesar Surabaya yang membesar

id potensi gempa,sesar surabaya

Ilustrasi - Tangkapan layar dari BMKG informasi gempa bumi di Kediri, Jawa Timur, Jumat (14/2/2020). (ANTARA Jatim/ Ach).

Jakarta (ANTARA) - Pakar tsunami Widjo Kongko membantah informasi yang tidak terkonfirmasi yang beredar soal patahan lempeng bumi membesar di daerah Surabaya dan sekitarnya, meski daerah itu memang dilewati sesar, namun potensi gempa hanya satu faktor yang mempengaruhi kerusakan.

"Sesar yang melewati Surabaya telah dipetakan dan tercantum dalam buku Gempa PUSGEN (Pusat Studi Gempa Bumi Nasional) 2017 dengan potensi magnitudo 6.5. Pemetaan yang lebih detail diperlukan karena potensi kegempaan hanya salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kerusakan," kata peneliti senior Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu ketika dihubungi dari Jakarta pada Sabtu.

Sebelumnya, muncul informasi tidak terkonfirmasi di media sosial dan grup-grup pesan singkat yang mengatakan kota Surabaya terancam gempa yang berbunyi sebagai berikut: "Ini dpt info dr group LPMK AAC. Bu Risma minta utk didoakan agar kota Surabaya tdk hancur krn adanya patahan lempeng yg melewati Sukolilo sampe Cerme Gresik Dan patahan yg garis kedua dari Waru ke Krian, Mojokerto, Jombang, Nganjuk sampe Cepu."

Baca juga: BMKG: Gempa Padangpanjang akibat aktivitas sesar Sumatera

Baca juga: BMKG: Gempa Ambon ungkap indikasi adanya sesar aktif baru

Baca juga: BMKG: Sesar baru terbentuk akibat gaya pada batuan


Menurut Widjo, memang terdapat sesar Surabaya yang menurut penelitian dimulai dari kawasan Keputih hingga Cerme tapi mengenai potensi kehancuran seperti yang disebarkan lewat pesan tersebut, dia mengatakan bahwa perlu pemetaan lebih soal tingkat kerusakan.

Pemetaan yang dimaksud adalah jenis tanah atau batuan dasar. Karena setiap jenis tanah memiliki respons yang berbeda-beda terhadap gelombang seismik gempa.

Hal itu harus dilakukan, kata dia, mengingat potensi risiko yang tinggi di wilayah Surabaya dan sekitarnya bergantung kepada kepadatan penduduk dan aset atau bangunan yang berada di sana.

"Tetapi karena wilayah itu memang telah dipetakan dan adanya sesar, maka tentu ada pergerakan yang terus menerus," ujar Widjo.

Oleh karena itu dia mendorong kajian yang lebih rinci terkait daerah tersebut dan potensi-potensi yang ada oleh pemerintah daerah bekerja sama dengan berbagai pihak seperti lembaga penelitian, universitas, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).*

Baca juga: BNPB akan sampaikan rekomendasi upaya mitigasi gempa di Maluku

Baca juga: BNPB - ITB temukan zona sesar baru penyebab gempa Maluku

Baca juga: Gempa di Papua bukti Sesar Anjak Mamberamo zona sumber paling aktif

Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar