Pakar: Terdapat kekosongan pelindungan hukum kasus kekerasan seksual

id Kekerasan Seksual,Penghapusan Kekerasan Seksual,Sri Wiyanti Eddyono,RUU Penghapusan Kekerasan Seksual,Universitas Gadjah Mada

Pakar: Terdapat kekosongan pelindungan hukum kasus kekerasan seksual

Sejumlah perempuan melakukan aksi unjuk rasa memperingati Hari Perempuan Internasional di Patung Kuda Arjuna Wiwaha, Jakarta, Senin (8-3-2021). Dalam aksinya mereka menyuarakan kesetaraan gender, perlawanan atas kekerasan seksual terhadap perempuan, dan ekspoitasi perempuan. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A./foc.

Jakarta (ANTARA) - Pakar hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Sri Wiyanti Eddyono menyebutkan terdapat kekosongan pelindungan hukum pada kasus kekerasan seksual sehingga Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual perlu segera dituntaskan dan disahkan.

"Saat ini hanya ada beberapa jenis kekerasan seksual yang sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan dengan delik dan unsur yang masih terbatas," kata Sri dalam seminar daring yang diadakan Badan Keahlian DPR diikuti dari Jakarta, Selasa.

Selain itu, Sri mengatakan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang disusun pada tahun 1981 lebih berorientasi pada hak-hak tersangka/terdakwa daripada hak-hak korban. Menurut dia, pada saat KUHAP disusun, memang dinilai penting untuk mengatur hak-hak tersangka/terdakwa.

Baca juga: Mahasiswa di Purwokerto tuntut pengesahan RUU PKS

KUHAP hanya mengatur hak korban kekerasan seksual dalam dua pasal, yaitu tentang ganti rugi dan proses praperadilan. Sama sekali tidak ada yang mengatur tentang hak korban untuk mendapatkan layanan kesehatan, konseling, dan lain-lain.

"Peraturan perundang-undangan yang ada belum menyediakan skema pelindungan, penanganan, dan pemulihan korban yang komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan," tuturnya.

Dalam penanganan kasus kekerasan seksual, terutama bila korbannya perempuan, kata Sri, terjadi judicial stereotyping yang menyebabkan aparat penegak hukum menjadi bias gender dalam menjalankan tugasnya.

"Proses peradilan menjadi tidak independen, menyangkal keterangan dari korban, bahkan menstigma dan menyalahkan. Budaya patriarki lebih mempercayai keterangan dari pihak laki-laki daripada perempuan," katanya.

Selain itu, selalu ada upaya untuk menyelesaikan kasus kekerasan seksual di luar peradilan melalui upaya perdamaian secara kekeluargaan atau adat. Menurut Sri, praktik-praktik seperti itu tidak melindungi korban, tetapi justru melegitimasi perbuatan pelaku kekerasan seksual.

"Hanya 10 persen kasus kekerasan seksual yang terjadi diproses di kepolisian dan tidak lebih dari setengahnya yang diproses hingga ke pengadilan," katanya menjelaskan.

Baca juga: Lindungi perempuan, Wamenkumham jabarkan pentingnya pengesahan RUU PKS

Sementara itu, anggota Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Maria Ulfah Anshor menyebutkan Catatan Tahunan 2021 Komnas Perempuan mencatat terjadi peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan sebanyak 4 persen dibandingkan Catatan Tahunan 2020.

"Kekerasan terhadap perempuan terjadi di ranah domestik, yaitu kekerasan dalam rumah tangga, ranah publik, hingga ranah negara," katanya.

Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar