AIPI: perlu capres-cawapres peduli pengembangan iptek

id Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia ,Satryo Brodjonegoro,capres dan cawapres,pengembangan iptek

Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Prof Satryo Brodjonegoro. (FOTO ANTARA/ Anita Permata Dewi)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Prof Satryo Brodjonegoro mengharapkan calon presiden (capres) dan wakil presiden (cawapres) yang peduli terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) untuk memajukan bangsa Indonesia.

"Perlu capres dan cawapres yang peduli pada pengembangan iptek karena hanya dengan kemampuan iptek yang kuat maka negara ini akan maju dan mampu bersaing global," kata Satryo saat dihubungi Antara, Jakarta, Jumat.

Menurut Satryo, pemanfaatan iptek secara optimal akan mendorong pada kemandirian bangsa dalam membangun negeri dan mendorong percepatan pembangunan.

Dia mengatakan dengan penguasaan iptek, maka dapat melahirkan inovasi yang bisa menjawab segala tantangan dalam memenuhi kebutuhan bangsa, termasuk menciptakan ketahanan pangan dan menghilangkan ketergantunga dari impor.

"Kalau iptek kita lemah maka negara ini akan selalu tergantung pada impor, artinya negara kita belum maju dan belum mampu bersaing global," ujarnya.

Pengembangan dan pemanfaatan iptek, katanya,  harus menjadi perhatian calon pemimpin dalam membangun Indonesia ke depan agar menjadi negara yang ekonominya digerakkan oleh inovasi.

Pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 diikuti dua pasangan calon, yaitu nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno.

Pada 17 Maret 2019, akan diadakan debat putaran ketiga antara cawapres nomor urut 1 Ma'ruf Amin dan cawapres nomor urut 2 Sandiaga Uno.

Debat putaran ketiga ini mengangkat tema "Pendidikan, Ketenagakerjaan, Kesehatan, Sosial dan Budaya".

Baca juga: AIPI dorong peningkatan dana riset untuk kemajuan bangsa

Baca juga: AIPI berharap capres berani kedepankan keputusan ilmiah

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar