HC Andersen jadi inspirator komikus Emte

id london book fair, lbf 2019,hc andersen,Mohammad Taufiq,emte

Salah satu sampul buku ilustrasi karya Mohammad Taufiq alias Emte yang dipamerkan di London Book Fair 2019 (ANTARA/Mulyo Sunyoto)

London (ANTARA) - Hans Christian Andersen, penulis cerita anak-anak yang berkarya sekitar 200 tahun silam, menjadi inspirator komikus Indonesia Emte, julukan Mohammad Taufiq.

“Secara tidak langsung, saya mengambil inspirasi darinya,” kata Emte di Studio 249 London, Sabtu (16/3), dalam perkacapan tentang proses kreatifnya sebagai komikus untuk konsumen anak-anak itu.

Dalam diskusi yang diselenggarakan sehubungan dengan ajang London Book Fair (LBF) 2019 itu, hadir juga penulis cerita anak-anak, Dina Riyanti dan Evelyn Ghozali.

Emte mengatakan, untuk membuat komik yang dikonsumsi anak-anak, aspek keceriaan, hiburan dan akhir cerita yang bahagia harus tetap menonjol meskipun tema ceritanya tentang kehidupan yang menyedihkan.

Menulis tema-tema kesedihan untuk komik yang dibaca anak-anak, kata dia, merupakan tantangan tersendiri. Untuk itu, ilustrator yang menghasilkan komik bertajuk Gugug! itu terus menimba inspirasi dan ilmu dari siapa pun.

Dalam jagat kisah atau dongeng untuk anak-anak, Hans Cristian Andersen dari Denmark sekitar 200 tahun silam menggubah satu kisah terkemuka Gadis Kecil Penjual Korek Api yang diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa, termasuk Inonesia.

Kisahnya adalah tentang seorang bocah perempuan yang meninggal dunia kedinginan saat musim salju. Sang bocah kelaparan berdiri di balik kaca sambil menyaksikan bangsawan menikmati santapan lezat.

Untuk menghangatkan diri, dia menyalakan batang korek api satu per satu sampai korek itu habis hingga pada akhirnya tubuh anak itu membeku. Kisah memilukan itu , oleh Andern, diakhiri dengan indah. Sang bocah bertemu mendiang ibunya di surga.

Dalam diskusi itu, Evelyn juga mengatakan menulis cerita untuk anak-anak dengan tema-tema yang menantang sebagai hal penting untuk membuka wawasan pembacanya. Itu sebabnya dia berkisah tentang kehidupan pekerja migran atau tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Hal serupa dilakukan Dina Riyanti yang berkisah tentang tema-tema menantang dalam buku-buku ilustrasi anak-anak, seperti Jangan Bersedih Bujang, Wuli Si Pemarah, dan Rambut Messy.

Dalam diskusi sebelumnya, Herdiana Hakim, novelis yang juga memperdalam studi sastra anak program doktor di Universitas Glasgow, mengatakan salah satu tema penting dalam cerita-cerita anak adalah tentang keberagaman budaya.

Anak-anak perlu mendapat bacaan mendidik, antara lain membaca cerita tentang masalah-masalah multikultural karena hal itu juga menjadi realitas dan dinamika masyarakat Indonesia.
 
Tiga pengarang dan ilustrator buku cerita anak; Dina Riyanti, Mohammad Taufiq, Evelyn Ghozalli, sedang berbincang di Studio 249 London, dalam rangka London Book Fair 2019. (ANTARA/Mulyo Sunyoto)

Baca juga: Film Battle of Surabaya diedarkan Amazon
Baca juga: Penerbit asing beli 23 hak cipta buku Indonesia
Baca juga: Penulis asal Indonesia didaulat sebagai "Author of the day" oleh panitia London Book Fair

 

Pewarta : Mulyo Sunyoto
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar