IHSG diprediksi sulit ke teritori positif

id ihsg,as iran,sengketa pilpres,mk,bei

Jurnalis melakukan sesi wawancara di dekat refleksi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (10/6/2019). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/hp. (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)

Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa ini diprediksi akan sulit bergerak menuju ke teritori positif karena dibayangi sentimen global.

IHSG dibuka menguat 23,64 poin atau 0,38 persen ke posisi 6.312,1. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 5,78 poin atau 0,58 persen menjadi 1.003,82.

Kepala Riset Valbury Sekuritas Alfiansyah di Jakarta, Selasa, mengatakan, Amerika Serikat (AS) yang akan menerapkan sanksi baru terhadap Iran bisa menjadi sentimen yang memberatkan IHSG.

"Sentimen di atas terbilang berat menjadi dorongan bagi IHSG ke teritorial positif, bahkan laju indeks domestik juga akan terganjal adanya ketidakpastian berupa penantian hasil keputusan dari sidang sengketa pilpres oleh Mahkamah Konstitusi pada 28 Juni pekan ini, setelah berakhirnya sidang gugatan pada pekan lalu," ujar Alfiansyah.

Dari eskternal, AS berusaha memberikan tekanan tambahan pada ekonomi Iran untuk mengekstraksi perubahan perilaku dari pemerintahnya.

Sikap AS terhadap Iran ini membuat kekhawatiran di pasar bahwa ketegangan kedua negara ini berpotensi menjadi konfrontasi bersenjata antara kedua negara.

Sebelumnya, Trump mengatakan pada Kamis (20/6/2019) membatalkan serangan balasan terhadap Iran.

Bursa saham regional Asia, Kamis pagi ini antara lain indeks Nikkei melemah 44,54 poin (0,21 persen) ke 21.241,45, indeks Hang Seng melemah 146,07 poin atau 0,51 persen ke 28.366,93, dan indeks Straits Times menguat 3,33 poin (0,1 persen) ke posisi 3.314,86.

Baca juga: IHSG Selasa dibuka menguat 23,64 poin
Baca juga: Bursa saham Hong Kong dibuka melemah, Hang Seng turun 0,23 persen
Baca juga: Bursa Wall Street ditutup bervariasi jelang pidato Ketua Fed

Pewarta : Citro Atmoko
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar